Kamis, 05 Maret 2009

Iman

Dalam Islam dijelaskan Rukun Iman Ada 6, yaitu : Iman Kepada Allah, Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab, Iman Kepada Nabi, Iman Kepada Hari Kiamat, Iman Kepada Qodo’ dan Qodar.
Iman secara bahasa dapat diartikan percaya, yaqin, membenarkan sepenuh hati. Sedangkan menurut syariat iman adalah membenarkan dengan sepenuh hati terhadap apa yang di bawa oleh Rasulullah SAW. Namun, hemat penulis iman tidaklah cukup hanya terpendam dalam hati saja, akan tetapi haruslah bersuara melalui lisan sehingga dapat berbuah syahadah atau kesaksian, sampai disini iman haruslah tetap berlanjut dengan pembuktian anggota badan, yaitu berupa amal sholeh. Iman seperti inilah yang digambarkan oleh Rasulullah dalam sabdanya :

اَلاِيْمَان تَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ وَاِقْرَارٌ بِاللّسَانِ وَعَمَلٌ بِالأركاَنِ

“Dengan iman seperti inilah seorang mukmin akan merasakan ketentraman, kedamaian, dan kebahagiaan serta sa’adah fiddunnya wal akhiroh amin. Iman bagaikan akar pohon yang menghubungkan antara daun, bunga, dan buah dengan tanah, sumber zat penting bagi tanaman, agar supaya tidak layu. Sehingga pada akhirnya menjadi kering dan rontok. Iman ibarat urat saraf yang menghubungkan antara anggota badan dan pusat kontrol dalam otak manusia sehingga gerak tubuh menjadi seimbang dan terkontrol. Itulah gambaran iman dalam kehidupan manusia.
Barangsiapa yang mampu menancapkan keimanan dalam lubuk hatinya yang terdalam dan mengaplikasikannya , berupa amal sholeh, dalam kehidupan sehari hari akan membuat- nya menjadi manusia yang penuh percaya diri (self confident). Manusia yang mampu menghadapi tantangan zaman, berfikir cerdas, berperilaku trengginas, dan ‘bermain cantik’ dalam era global. Sebagaimana Para Shahabat R.A, mampu menjadi agent of change yang menggetarkan dunia meskipun jumlah mereka sedikit. Seperti yang difirmankan Allah SWT :

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً بِإِذْنِ اللهِ والله مَعَ الصبرينَ

Artinya : ”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang yang sabar.” (Al-Baqoroh : 249 )
Semua itu karena iman yang menyala-nyala dalam hati mereka.
Dengan iman seseorang dapat bangkit dari keterpurukan, dengan iman seseorang dapat tersenyum membuang jauh rasa sesak dalam dada, dengan iman pula seseorang dapat mengakhiri kehidupan dengan khusnul khotimah sehingga ia layak pula meraih tiket untuk masuk surga Allah yang penuh dengan berbagai macam kenikmatan dan kebahagiaan haqiqi, semoga kita dapat meraihnya amiin, yarobbal alamiin. Dari sini marilah kita kembali memahami makna makna rukun iman yang telah tersebutkan di atas:
Iman kepada Allah, Manusia yang percaya kepada Allah SWT, meyakini hanya Dialah yang Maha tahu, Maha kuasa , Maha pengasih, Maha penyayang, menghidupkan, mematikan, memberi rizqi, dan yang Maha sempurna, manusia seperti itulah yang tidak akan kering atau mati jiwanya bahkan akan selalu hidup, dan berkembang bebas saling bermesraan dengan Ruh alam semesta, rindu selalu ingin berjumpa dengan Allah yang selalu mengasihinya. Sehingga dengan perasaan penuh bahagia ia sujud lima kali di hadapanNya. Sebaliknya manusia yang tidak percaya akan adanya Allah maka hatinya kosong, jiwanya mudah limbung bagaikan pesawat yang kehilangan keseimbangan,lalu jatuh bebas tidak tentu rimbanya. Manusia yang hidup tanpa iman, meskipun kelihatannya orang tersebut hidup mewah tak kurang harta tetapi di balik batinnya ia menangis serta tercabik cabik karena jiwanya terputus dengan sumber kehidupan yang haqiqi yaitu Allah SWT,yang selalu mencurah kasih sayang, kedamaian,dan ketenangan di dalam qolbu hamba-hambaNya.
Iman Kepada malaikat Allah, merupakan salah satu iman kepada hal yang ghaib, dalam dalam hal ini manusia tidak akan mampu mengetahui keberadaannya, kita tidak dianjurkan untuk mengetahuinya tapi kita hanya diperintahkan untuk percaya adanya malaikat. Dengan tertanamnya iman kepada malaikat dalam hati, maka akan muncul perasaan bahwa kita hidup di dunia fana ini tidak sendirian. Kita akan didampingi oleh malaikat yang selalu membisikkan kebenaran dalam qolbu hamba yang sholeh, dan mendoakan manusia yang menempuh jalan yang di ridloi Allah. Dalam hadits nabi disebutkan: Dari Abu Huroiroh ra., Tidak suatu kaum berkumpul dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, dan mengajarkannya sesama mereka. Kecuali diturunkan kepada mereka sakinah [ketenangan] , rahmat menyirami mereka , para malaikat akan mengerumuni mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka dikalangan malaikat yang ada di sisi-Nya.( HR. Muslim, Abu Dawud).
Iman Kepada Kitab Allah, kita meyakini kebenaran kitab-kitab yang diturunkan Allah yaitu : Taurot, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Namun Taurot, Zabur, Injil yang ada sekarang sudah banyak campur tangan manusia. Sehingga kita hanya meyakini Al-Quran yang didalamnya termaktub esensi ajaran kitab-kitab sebelumnya.
Iman kepada Rasul, dengan iman kepada Rasul, kita percaya bahwa Allah telah mengutus rosul-rosulnya untuk membimbing dan memberi suri tauladan bagi manusia dalam menjalankan syari’at-syariat-Nya. Keimanan kepada kitab dan rosul Allah merupakan buah keimanan kepada Allah.
Iman Kepada Hari Akhir, akan menimbulkan perasaan roja’, harapan, kepada kehidupan yang lebih luas dan sempurna di dalam Surga-Nya. Dan menumbuhkan perasaan khouf (takut), terhadap siksa-Nya, dalam perjalanan abadi dari alam kubur, padang mahsyar, mizan, jembatan shirothol mustaqim, dan berujung di neraka yang penuh dengan kepedihan dan kesengsaraan. Jika tidak mempunyai keimanan pada hari kiamat. Manusia akan menganggap dunia ini segala-galanya, hanya memandang hal-hal yag sifatnya materi. Akibatnya perasaan sempit akan muncul dalam memperebutkannya.
Iman kepada Qodo’ dan Qodar, Kita percaya bahwa taqdir khoirihi (baik) maupun syarrihi (buruk) adalah dari Allah SWT. Takdir kadang dibuat alasan oleh seseorang saat tidak mampu meraih kesuksesan, padahal dia malas berusaha, kita hidup di dunia ini diberi akal untuk berusaha menggapai rahmat Allah, kita berusaha bukan berarti menghindar dari takdirnya Allah, Nabi Muhammad pun menganjurkan untuk berusaha berobat ketika sakit. Allah menganugerahkan akal kepada kita sebagai salah satu bentuk kasih sayang-Nya agar supaya kita dapat memilih takdir Allah yang baik atau buruk. Jadi, qodar janganlah dijadikan alasan untuk tidak berusaha. Kita berobat untuk memperoleh kesembuhan dan kesehatan juga menuju Taqdir Allah.
Itulah nikmat Allah yang cukup besar, yang terbingkai dalam Rukun-rukun Iman. Beruntunglah orang yang memilikinya, dan merugilah mereka yang tidak memilikinya. Semoga kita dapat mengakhiri lembaran hidup dengan iman, Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar