Senin, 25 Januari 2010

Jagalah Malu - MU !

OLEH : IN’AMUL MUTTAQIEN

”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ............
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS. Al-Mukminuun : 1 , 5-6)

Orang yang menjaga Kemaluannya adalah orang yang memiliki Rasa MALU, karena pada Jaman sekarang banyak orang yang tidak mempunyai rasa Malu, sering menampakkan Kemaluannya. seorang yang mempunyai Sifat Malu, akan berfikir dahulu sebelum bertindak, mereka akan selalu memikirkan Akibat dan manfaat atas apa yang akan dilakukannya, apa yang terjadi jika kita melakukan ini, bermanfaatkah atau justru memalukan dirinya. Sifat malu bisa mencegah seseorang dari berlaku buruk dan maksiat kepada Allah, karena mereka selalu berfikir ke depan dalam melakukan segala sesuatu. Oleh karena itu Nabi menggolongkan sifat malu seperti ini sebagai bagian dari keimanan dalam sabdanya, "Malu adalah bagian dari iman." (HR. Muslim - Makarimul Akhlaq hal. 73).
Kembali tentang Menjaga Kemaluan, Allah Berfirman :
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. An-Nuur : 30)
Ini adalah peringatan bagi para lelaki , bahwa selain menjaga dan memelihara kemaluan kita sendiri, memelihara dari perbuatan yang hina, menjaga dari Berzina. Kita juga diwajibkan untuk menahan pandangan kita terhadap sesuatu yang tidak patut dilihat, sehingga kita tergolong menjadi orang yang suci. SUCI di Dunia dan Akhirat.
Sedang Bagi wanita, Allah juga berfirman dalam Lanjutan Ayat di atas :
“ Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. " (An-Nur : 31)
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah : “Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka” (Riwayat Bukhori)
Malu merupakan tema yang telah disepakati oleh para nabi dan tidak terhapus ajarannya. Malu merupakan landasan akhlak mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan. Jika seseorang telah meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun. Siapa yang banyak malunya lebih banyak kebaikannya, dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit kebaikannya. Diantara manfaat rasa malu adalah ‘Iffah (menjaga diri dari perbuatan tercela) dan Wafa’ (menepati janji). Rasa malu merupakan cabang iman yang wajib diwujudkan.
Rasa malu merupakan perilaku yang dapat dibentuk. Karena tingkatan Malu masing-masing Insan Manusia itu berbeda-beda, contoh saja dalam hal berpakaian, Seorang Muslimah pasti akan menutupi semua Auratnya, sedang orang yang tidak mempunyai Malu justru membuka semua auratnya, memakai pakaian yang menutupi aurat, ketat yang menampakkan bagian tubuhnya, mengumbar aurat ke semua orang. Orang yang malu akan selalu IFFA’ atau menjaga diri dari perbuatan tercela, sehingga orang yang memiliki rasa Malu tidak mau untuk berbohong, Memfitnah, Mencuri, berzina, dan sejenisnya. Orang yang malu juga selalu WAFA’ atau selalu menepati Janji, karena mereka akan malu jika sampai tidak menepati janji mereka.
Orang yang Memiliki rasa malu, cenderung selalu berfikir apa yang akan dikerjakannya, memikirkan apa yang akan dikatakan orang padanya jika ia melakukan ini, dikatakan baikkah ? atau justru sebaliknya ? marilah kita menjadi manusia yang terbaik, yang selalu dikatakan / dicap baik oleh semua orang, karena jika kita selalu menjunjung tinggi rasa Malu, apa yang kita lakukan selalu berujung pada kebaikan. Andai semua orang mempunyai Rasa Malu, tentunya semua orang akan berbuat baik semua, tidak ada seorang yang akan berbuat tercela, tidak akan ada orang yang akan menghuni Penjara, semua Penjahatdi dunia ini akan Tobat.
Lain halnya dengan orang yang tidak mempunyai rasa Malu, mereka tidak tahu menahu apa yang dilakukannya, mereka berfikir “ Masa Bodoh “ atas sesuatu yang dilakukannya, sehingga mereka identik akan melakukan sesuatu yang tidak jelas, bahkan cendurung menuju keburukan, mereka tidak akan segan-segan untuk mencuri, merampok, membunuh, berzina. Mereka akan melakukan apa yang mereka suka, tidak peduli apa kata orang tentang perbuatannya. Mereka akan terus berbuat keburukan, selama tidak ada rasa Malu dalam hatinya. Oleh sebab itu, orang yang menghuni di Balik Jeruji (penjara) adalah golongan orang yang tidak Malu akan perbuatannya, orang yang tidak Malu dilihat orang bahwa dia berada di Penjara.
Nabi adam saja saaat melakukan suatu kesalahan saja, yaitu saat memakan buah Khuldi, beliau dikeluarkan dari surga, beliau tak henti-hentinya menangis selama 300 tahun. Beliau juga tidak mengangkat kepalanya ke langit kerana terlampau malu kepada Allah swt. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip. Begitulah Rasa Malunya terhadap Allah swt. Lain halnya dengan kita, yang telah berulang kali melakukan kesalahan, terus menerus berbuat dosa, tapi kita tidak henti-hentinya melakukan perbuatan yang tercela tersebut, karena kita tidak mempunyai rasa Malu terhadap Allah.
Marilah kita Malu untuk melakukan KEBURUKAN. Tapi jangan sekali-kali kita Malu untuk berbuat KEBAIKAN. Karena Tidak ada rasa malu dalam mengajarkan hukum-hukum agama serta menuntut ilmu dan kebenaran . Allah ta’ala berfirman : “ Dan Allah tidak malu dari kebenaran “ (QS. Al-Ahzab : 53). Jadi, jangan sampai kita malu untuk berbuat sesuatu yang terpuji, jangan Malu untuk belajar Mengaji, untuk belajar agama. Karena, kita harus terus menerus melakukan sesuatu yang terbaik. Buang 100 % malu kita untuk melakukan kebaikan, dan tambahkan 100 % lagi pada rasa Malu kita untuk melakukan keburukan. Agar kita meninggalkan sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang dilarang Oleh ALLAH swt. Dan terus meneruskan melakukan yang baik, atau yang diwajibkan serta diperintahkan oleh Allah.
Marilah menjadi generasi yang selalu menjaga kemaluan, Malu untuk melakukan yang buruk, Malu terhadap Allah, Malu terhadap Makhluk. Karena ketika ditanya Rasulullah tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab, "Mulut dan kemaluan" (HR. Tirmidzi) oleh karena itu jagalah kemaluan kita, tidak ditampakkan kepada semua orang, tidak dipergunakan untuk berzina, serta jagalah lisan kita, serta jaga pula amal perbuatan kita, ucapkkan perkataan yang baik-baik, hindarkan dari perkataan yang buruk perkataan yang menjelek-jelekan orang lain (meng-Ghibah), MARI melakukan Amal Sholeh dan Nahi Munkar. Marilah Malu dan takut untuk melakukan sesuatu yang Buruk, dan janganlah Malu dan Takut untuk Melakukan sesuatu yang baik. (imq)

Menjadi Manusia Terbaik

MENJADI MANUSIA TERBAIK !
OLEH : IN’AMUL MUTTAQEN

”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) ……… dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (QS. Al-Mukminun : 1-3)

inilah tanda iman ke-4, yaitu kemampuan menjauhkan diri dari perbuatan dan perkatan yang tidak berguna, dan juga melakukan perbuatan dan perkataan yang bermanfaat. Dalam hadist disebutkan : “Kwalitas keislaman seseorang tergantung kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi). Adapula hadist yang menyebutkan "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang bermanfaat bagi Manusia" (H.R. Bukhari).

Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai Allah kepekaan untuk mengamalkan aneka pernik peluang kebaikan yang diperlihatkan Allah kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi Allah aneka potensi kelebihan oleh-Nya, dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya umat manusia.
Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Seperti hadist yang sudah disebutkan di atas, semakin banyak nilai manfaat yang kita berikan kepada orang lain, maka semakin tinggi pula derajat kita hingga kita menjadi manusia yang terbaik di mata manusia sendiri serta di mata Allah swt. Sekarang kembali kepada diri kita ! pernahkah dalam keseharian kita, ada orang yang memanggil kita ? tentunya pernah karena semakin banyak orang yang memanggil kita, tentunya itu pertanda bahwa mereka sangat membutuhkan kita. Lalu, pernahkah ada orang yang meminta bantuan kepada kita ? mungkin jarang bagi kita, dimintai bantuan oleh orang lain karena dimintai bantuan merupakan suatu gambaran bahwa kita lebih mampu dari mereka. Lalu yang terakhir, adakah orang yang mengucapkan terima kasih kepada kita ? terima kasih merupakan suatu apresiasi orang lain dalam menghormati kita, karena kita telah memberikan suatu manfaat bagi mereka.

Ketiga hal diatas hanyalah suatu gambaran tentang arti dari manfaat itu sendiri. Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Kaum manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi mereka, Dan amalan yang paling dicintai Allah ‘azza wajalla adalah amalan yang mendatangkan kebahagian bagi seorang muslim, atau yang dapat menepis kesedihannya, atau dapat melepaskannya dari jerat hutang, ataukah menghilangkan rasa laparnya. Dan saya berjalan bersama saudaraku seorang muslim dalam untuk memenuhi kebutuhannya lebih saya cintai dari pada melakukan I’tikaf selama sebulan. Dan barang siapa yang menahan amarahnya niscaya Allah akan menutupi auratnya. Dan barang siapa yang menahan lagi mengendalikan hawa amarah dan jika dia berkehendak untuk melepaskannya dia dapat melepaskannya, niscaya Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang berjalan bersama saudaranya seorang muslim untuk memenuhi kebutuhannya hingga saudaranya itu mendapatkan kebutuhannya, Allah ta’ala akan menetapkan pijakan kakinya pada hari dimana kaki-kaki manusia pada berguncang. Dan sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal, sebagaimana cuka akan merusak madu “ (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 176).
Banyak cara bagi kita untuk memberikan manfaat bagi semua orang, yaitu :

BERMANFAAT DENGAN MEMBERIKAN HARTA

Terkadang di saat kita memiliki sejumlah rezeki, kita kadangkala berfoya-foya, menghabiskan uang kita untuk bersenang-senang. Padahal, banyak saudara kita yang kebingungan mencari kerja, kesulitan mendapatkan uang, sehingga harus tinggal di sebuah kontrakan yang kumuh, mereka tidak bisa membeli apa-apa, kadang anak-anak mereka merengek-rengek meminta sesuatu, tapi mereka tak kuasa untuk mendapatkannya karena terhimpit masalah ekonomi.
Salah satu cara bagi kita untuk membantu orang lain adalah dengan menyisihkan harta kita untuk diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Seperti memberikan shodaqoh di masjid, yayasan, dan memberi santunan kepada anak yatim, para dhuafa, lansia. Bahkan yang lebih berkesan adalah apabila kita mampu memberikan modal usaha kepada wirausahawan yang tidak memiliki modal. Karena selain memberi, kita juga mampu meningkatkan taraf kehidupan orang lain, yang mulanya tidak memiliki apa-apa.

BERMANFAAT DENGAN MEMBERIKAN MAKANAN

Kadangkala di saat kita lapar ada saja yang kita beli, kadang membeli nasi pecel, bakso, mie ayam, dan segala jenis makanan yang ada di rumah makan. Padahal, di meja makan kita ada sederet masakan ibu kita, bibi kita yang sekiranya masih dapat kita makan. Namun, karena kita mengikuti hawa nafsu perut, kita justru lebih memilih membeli makan di luar daripada menikmati masakan ibu kita yang dimasak dengan penuh kasih sayang hanya untuk kita. Padahal Jika kita perhatikan di seberang sana, banyak saudara-saudara kita yang mengais-ngais tempat sampah rumah makan, demi mendapatkan sesuap nasi untuk mengganjal perut, yang tidak memenuhi standar kebersihan dan gizi. Mereka sangat kesulitan mendapatkan sebutir nasi, sampai-sampai menyisir beras di halaman gudang beras yang kadang kala bercampur dengan tanah. Namun, mereka tetap saja tegar meski hanya bisa makan dengan nasi dan garam saja.
Membaca fenomena di atas, tentunya kita patut merenungi kesusahan saudara-saudara kita yang terhimpit kemiskinan. Sehingga apabila ada makanan yang masih layak dan tidak kita makan, sebaiknya kita berikan semua itu kepada orang yang lebih membutuhkan, niscaya do’a mereka akan mengiringi kita.

BERMANFAAT DENGAN MENULARKAN ILMU

“Iika mati anak adam maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga hal, yaitu : pertama shodaqoh jariyah, kedua anak yang sholihah, ketiga ilmu yang bermanfaat” di jaman globalisasi ini kita dituntut untuk mempunyai ilmu yang tinggi agar kita tidak tergeser dan terdepak dalam arus kompetisi ini. Bagi kita yang orang tuanya mampu mungkin masih dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Tapi seperti yang kita lihat di sekitar kita,banyak teman-teman seangkatan kita yang putus sekolah karena terhimpit biaya sekolah yang mahal. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menularkan ilmu yang kita miliki kepada teman-teman, serta saudara-saudara kita yang putus sekolah. Selain ilmu umum, kita juga wajib memberikan ilmu agama, agar mereka tahu bagaimana cara ibadah, bagaimana cara melakukan hubungan dengan sang illahi.
Seperti hadist di atas, apabila kita mati nanti semua ilmu yang kita tularkan kepada orang lain itu akan terus mengiringi kita. Apabila ilmu itu dipergunakan, dimanfaatkan, ditularkan lagi kepada orang lain. Sehingga pahala kita akan terus mengalir, meski ajal sudah mengintai kita.

BERMANFAAT DENGAN TENAGA

Inilah cara alternatif yang mampu dilakukan oleh semua orang, jika kita belum mampu memberikan suatu manfaat dengan harta, makanan, dan ilmu yang bermanfaat, kita mampu membantu dengan fisik kita, dengan tenaga kita, dengan keringat kita. Jika kita melihat orang lain kesusahan dalam melakukan sesuatu, kita bisa menolongnya dengan membantu mengangkatkan, membantu membawa.
Dalam hidup kita harus mempunyai prinsip, “Jangan sampai orang lain berkeringat karena kita, dan biarlah kita berkeringat demi orang lain” maksud dari filosofi tadi adalah kita harus senantiasa membantu orang lain. Relakan tetes demi tetes keringat kita untuk membantu mereka.

Ingatlah !, perbedaan orang yang bermanfaat dengan orang yang tidak bermanfaat itu bagaikan Jiwa Hidup dan Mati, jadi berikanlah manfaat kepada Orang lain agar kita tergolong menjadi manusia yang terbaik, dan jika anda tetap tidak mau untuk bermanfaat, ada ucapan sebuah media islami, ”JANGAN HIDUP, JIKA TIDAK BERMANFAAT”. Pernyataan itu memang sangat benar adanya, karena untuk apa kita hidup jika kita tidak memberikan manfaat kepada Orang Lain. Lalu apa yang kita lakukan di dunia ini jika tidak mampu bermanfaat bagi orang lain.
Dari penggalan tulisan di atas, marilah kita beranjak dari kemalasan kita, jangan mau untuk menjadi manusia yang terburuk, lepaskan segala penat kita untuk membantu orang lain. Marilah kita menjadi orang yang terbaik, dengan senantiasa membantu sesama manusia, senantiasa menolong mereka. Banyak cara untuk memberikan manfaat kepada orang lain, tergantung dari kita sendiri bagaimana cara kita mengaplikasikan arti manfaat itu sendiri. Mari membantu orang lain, agar ucapan terima kasih mereka senantiasa mengiringi kita, menjadi pahala buat kita, yang mampu menghantarkan kita menuju surganya Allah, tempat berkumpulnya para anbiya’ dan mursalin, tempat singgahnya para alim, ulama, serta para wali. Mari berbuat manfaat kepada semua orang agar kita menjadi manusia yang bermanfaat. (imq)
SHOLAT YANG KHUSYUK & KONSISTEN
OLEH : IN’AMUL MUTTAQEN


” Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,” (QS. Al-Mukminun :1-2)


Inilah Tanda Iman ketiga, karena sholat yang khusyuk adalah meditasi iman tertinggi, karena tiang agama ada pada sholat, jika sholat kita sudah mencapai kategori khusyuk, maka dengan sendirinya iman kita terhadap Allah akan berangsur-angsur meningkat hingga mencapai tingkatan iman tertinggi. Namun, untuk mencapai sholat yang khusuk memang dibutuhkan niat yang tulus, bahkan tidak sembarang orang dapat melakukan sholat yang khusyuk, sholat yang khusuk adalah sholat yang selama sholat hati kita tidak berpkir kemana-kemana, hanya pada Allah hati kita tertuju. KUNCINYA SHOLAT YANG KHUSYUK ADALAH BERJAMAAH. Dengan berjamaah, hati kita saling bahu membahu demi mencapai kekhusyukan itu sendiri. Sehingga apabila kita ingin sholat yang khusuk kita harus berjamaah, dan agar lebih maksimal dalam mengkhusyukkan sholat lakukan hal-hal berikut :

A. LATIHAN WUDHU’

1. Mulailah dengan mengucapkan “Bismillahirrahmannirrahim”. Hubungkan jiwa anda kepada Allah, rasakan anda sedang melakukan proses pembersihan tubuh dan jiwa.
2. Cucilah kedua tangan dengan air mutlak – pastikan hati tetap tersambung kepada Allah sampai muncul getaran rasa tenang dan sejuk di dada.
3. Bersihkan mulut sebagai bagian proses pembersihan jiwa dengan berkumur-kumur.
4. Bersihkan ke dua lubang hidung – hayati dengan perasaan dan lakukan perlahan, tidak terburu-buru sebab hal ini akan menutup rasa sambung/ingat kepada Allah
5. Hadirkan jiwa anda kepada Allah, bahwa anda sedang melakukan pembersihan jiwa. Kehadiran jiwa ini akan membuat rasa menjadi sangat hening dan peka serta getaran kesambungan semakin kuat.
6. Basuhlah muka, dan semua anggota anda dengan air perlahan sekali sambil dirasakan …ulangi 3x
7. Sempurnakan dan diamlah sejenak lalu berdoa

B. LATIHAN SHALAT

1. Heningkan pikiran anda agar rileks. Usahakan tubuh kendor sampai terasa nyaman dan tidak perlu mengkonsentrasikan pikiran.
2. Biarkan tubuh meluruh, agak dilemaskan atau bersikap serileks mungkin.
3. Rasakan getaran kalbu yang bening dan sambungkan rasa itu kepada Allah.
(Umumnya jika tersambung, suasana sangat hening dan tenang serta terasa getarannya menyelimuti jiwa dan fisik; sehingga pikiran tidak liar)
4. Bangkitkan kesadaran diri, bahwa anda sedang berhadapan dengan Zat yang Maha Kuasa, Yang Meliputi Segala Sesuatu, Yang Maha Hidup, Yang Maha Suci dan Yang Maha Agung.
• Sadari bahwa anda akan memuja dan bersembah sujud kepadanya serendah-rendahnya,dan menyerahkan segala apa yang ada pada diri anda
• Biarkan ruh anda mengalir pergi dengan suka rela menyerahkan diri kepada Allah semata.
5. Berniatlah dengan sengaja dan sadar, sehingga muncul getaran rasa yang sangat halus dan kuat menarik ruhani meluncur kehadiratNya, seraya ucapkan “ ALLAHU AKBAR”.
• Jagalah getaran tadi dengan meluruskan niat: inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawaati wal ardh, haniifan musliman wama ana minal musyikin (sesungguhnya aku menghadap kepada wujud Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan selurus-lurusnya dan aku bukan termasuk orang yang syirik).
• Rasakan kelurusan jiwa anda yang terus bergetar menuju Allah, lalu menyerahkan secara total: inni shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil’alamin (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata.
6. Rasakan keadaan berserah masih menyelimuti getaran jiwa Anda.
• Bacalah setiap ayat dengan tartil – pastikan getaran pasrah menyertai bacaan dihadapanNya.
• Kemudian lakukan rukuk, biarkan badan membungkuk dan rasakan – pastikan ruh anda perlahan-lahan turut rukuk dengan perasaan hormat dan pujilah Allah Yang Maha Agung: “subhaana rabbiyal adiimi wabihamdihi”.
(jika antara ruhani dan fisik seirama, maka getaran itu akan bertambah besar dan kuat, bertambah kuat pula kekhusyu’an yang terjadi)
7. Setelah rukuk, anda berdiri kembali sambil mengucapkan pujian kepada Zat Yang Maha mendengar:” samiallahu liman hamidah” (semoga allah mendengar orang yang memujiNya)
• Lalu, setelah kedua tangan diturunkan, ucapkan: “rabbana wa lakal hamdu millussamawati wamil ul ardhi wamiluma syi’ta min syai in ba’du” (Ya Tuhan, milikMu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh sesuatu yang Engkau kehendaki sesudah itu).
• Rasakan sampai ruhani anda mengatakan dengan sebenarnya (jangan sedikitpun tersisa rasa untuk dipuji, yang terjadi adalah keadaan nol; tidak ada beban kecuali hening).
8. Kemudian secara perlahan bersujud serendah-rendahnya sambil berdzikir: “Allahu Akbar”.
• Biarkan tubuh anda bersujud, rasakan sujud anda agak lama.
• Jangan mengucapkan pujian kedapa Allah Yang Maha Suci “subhanallah rabbiyal a’la wabihambidhi”, sebelum ruh dan fisik anda bersatu dalam satu sujud. (biasanya terasa sekali ketika ruhani memuji Allah dan akan berpengaruh pada fisik, menjadi lebih tunduk, ringan dan harmonis).
9. Selanjutnya, lakukan shalat seperti diatas dengan pelan-pelan, tuma’ninah pada setiap gerakan. Jika anda melakukan dengan benar, getaran jiwa akan bergerak menuntun fisik anda. Sempurnakan kesadaran shalat anda sampai salam.

LATIHAN DZIKIR

1. Sehabis shalat, duduklah dengan tenang. Rasakan getaran yang masih membekas. Ruhani anda masih merasakan getaran takbir, rukuk, sujud dan penyerahan diri secara total. (Biasanya, setelah shalat, getaran jiwa anda terus menerus berdzikir, bukan keluar dari pikiran)
2. Pujilah Allah, agar jiwa kita mendapatkan energi Ilahi yang membersihkan hati.
subhanallah ….. Subhanallah……… subhanallah……. Alhamdulillah ….. Alhamdulillah….. Alhamdulillah…… Laa ilaha illallah….. Laa ilaha illallah….. Laa ilaha illallah…. Allahu akbar….. Allahu akbar….. Allahu akbar…..
3. Anda akan merasakan getaran shalat kapan saja, sehingga suasananya menjadi sangat indah dan damai. Dan ketika shalat tiba, getaran itu akan tambah besar dan menjadi tempat persinggahan jiwa untuk mengisi getaran iman dari kekhusyu’an. ”Agar getaran jiwa tidak tertutup lagi, lakukanlah dzikrullah dalam setiap kesempatan”
4. Berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan akan membantu anda dalam membuka hijab yang terasa sulit ditembus. Dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang. Ketenangan jiwa itulah anda akan mampu melepaskan jiwa anda menuju kehadirat ilahi dengan sangat mudah.

Itulah tips dan trik agar kita dapat melakukan sholat yang khusyuk, sholat yang dimana kita selalu teringat kepada Allah, yang menangis terisak-isak kala mendengar lafadz Allah. Setelah itu, kita harus KONSISTEN atau dalam istilah agamanya ISTIQOMAH, karena meski kita sudah khusyuk sholatnya, tapi sekali saja meninggalkan sholat, maka akan sulit bagi kita untuk mengkhusyukkan sholat kita lagi. Maka kunci berikutnya adalah istiqomah, terus menerus meningkatkan iman kita kepada Allah.
Mari kita tingkatkan iman kita dengan sholat, yaitu SHOLAT yang BERJAMAAH, KHUSYUK, ISTIQOMAH. Melakukan sholat dengan bersama-sama, menenangkan hati, dengan kekhusyukan tertinggi, serta konsisten dalam menjalani. Insya Allah jika kita senantiasa melaksanakan tiga kunci itu, rasa iman kita akan meningkat, lebih baik dalam menjalan hidup, sukses di dunia dan di akhirat. Dan tentunya tergolong menjadi MUKMININ. Amiin (imq)
Sumber dari : Pelatihan Sholat Khusyuk ; Abu Sangkan

Mari bertawakkal !

MARI BERTAWAKKAL
OLEH : IN’AMUL MUTTAQIEN


”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah ................. dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfaal : 2)

Pada edisi kali ni kita akan membahas tentang tawakal, tawakal merupakan tanda iman kedua. Kenapa ? karena tawakkal adalah sebuah filosofi dimana kita menyerahkan semuanya kepada Allah, menyerahkan hidup dan mati kta kepada Allah, menyerahkan kaya dan miskin kita kepada Allah, berarti kita percaya kepada-Nya hanya Dia-lah yang mampu melakukan segalanya, yang mampu mengatur segala kehidupan kita. Dalam hadist dikatakan :

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Turmuzi)

Dalam hadist di atas sudah diterangkan, bahwa hanya Allah –lah yang mampu menghendaki sesuatu, sehebat dan sepintar apapun manusia, jika Allah tidak menghendaki, mereka tidak akan bisa melakukan hal-hal yang diingnkannya, begitu juga selemah dan sebodah apapun manusia, jika Allah menghendaki, tentu mereka akan bisa melakukannya. Maka, sedari sekarang janganlah kita terlalu bergantung pada Manusia, terlalu membanggakan manusia. Karena manusia tidak mampu berbuat apa-apa, tanpa kehendak Allah, manusia hanyalah Makhluk tidak mampu menciptakan segala sesuatu, manusia hanyalah ciptaan biasa yang masih memiliki batas dalam melakukan segala sesuatu. Allah berfirman : ".......................maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.” (QS. An-Nisaa’ : 81). Orang yang bertawakkal tidak pernah sekali-kali berputus asa, mereka selalu menyerahkan semuanya kepada Allah, memberikan hasil akhir urusan mereka kepada Sang Pencipta, mereka sudah merasa cukup dengan Dilindungi Allah.

Allah berfirman : ”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu ? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah : 1 -8)

Orang yang bertawakkal adalah orang yang lapang dadanya, selain Ikhlas akan segala sesuatu, mereka tidak pernah merasa mempunyai beban di dunia ini. Tidak pernah merasa keberatan akan segala sesuatu, tidak pernah mengeluh. Karena mereka yakin di balik kesulitan ada kemudahan, dimana ada kemauan disitulah ada jalan, mereka yakin dengan Allah tiada segala sesuatu yang tidak mungkin, Bersama Allah, Bisa ..!!

Tapi jangan disalah artikan, orang yang bertawakkal tidak hanya berharap saja. Melainkan orang yang giat berusaha, seperti yang dikatakan dalam lanjutan Ayat di atas, ”..... Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,... ”. Mereka tidak berhenti melaksanakan aktivitas mereka, bahkan jika sudah selesai urusan mereka, mereka akan melakukan aktivitas yang lain, dan akan terus melakukan lagi. Bahkan cara kerja mereka tidak asal-asalan, tapi mereka melakukan segala aktivtasnya dengan sungguh-sungguh. Maka, jangan mengaku menjadi orang yang bertawakkal jika kita tidak berusaha, tidak mencoba terlebih dahulu apa yang kita inginkan, serta mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.

Kesimpulan yang dapat kita petik adalah, dimana selain kita menyerahkan semuanya kepada Allah, kita juga mesti berusaha, Insya Allah dengan Izin-Nya kita akan menjadi Insan yang sukses di Dunia dan Akhirat, dengan bertawakkal iman kita akan terus bertambah, dengan berusaha apa yang kita inginkan akan terkabulkan, apa yang kita niatkan akan terlaksana. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kita harus tetap yakin 100 % kepada Allah. Hanya Dia-lah yang maha atas segalanya, yang mengatur segala kehidupan di langit dan di Bumi, yang memberikan kita nikmat nafas serta ni’mat kesehatan, yang telah memberikan kita rezeki yang terus mengalir.

Imam Tirmizi pernah berkata : ”Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).”. itulah prinsp orang bertawakkal, marilah kita menjadi orang yang bertawakkal, agar iman kita meningkat, Marilah melapangkan dada kita, ikhlaskan segala kejadian yang terjadi, lupakan segala beban dan penat di Dunia ini, yakinlah kepada Allah, bahwa semua beban itu akan segera diberi jalan, sehingga tidak membayangi pikiran kita, serta tidak memberatkan punggung kita. MARI BERTAWAKKAL... !! (imq)

Bergetar Jantungnya, Karena Dzikrullah : IMAN 1

BERGETAR JANTUNGNYA KARENA DZIKRULLAH,
OLEH : IN’AMUL MUTTAQEN

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya),…..” (QS. AL-Anfaal : 2)

Inilah tanda iman yang pertama akan kita bahas, sudah jelas dalam ayat tersebut tertulis bahwa sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan Ayat-ayat Allah maka bertambah imannya.
Dalam tafsir, pada kata orang-orang yang beriman para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah orang yang sempurna imannya. Kenapa mesti begitu ? hati manusia merupakan organ yang paling sensitive terhadap sesuatu yang ditakuti dan disukai, oleh karena itu membuat getar hati saat disebutnya sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakan Allah, memang membutuhkan kecintaan yang sangat terdalam kepada Allah swt. Allah berfirman :

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar : 23)

Jadi, Selain gemetar hati kita, gemetar pula kulit kita, bahkan dalam ayat lain disebutkan kita juga dianjurkan untuk mampu meneteskan air mata sebagai pembuktian keimanan kita saat mendengar kalamullah :

“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan Menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. AtTaubah : 82)

Lalu, bagaimana upaya kita agar dalam setiap mendengar asma Allah, hati dan kulit kita mampu bergetar, bahkan sampai air mata kita menetes membasahi pipi kita. Satu-satunya cara hanyalah kita harus tunduk dan patuh kepada Allah, dengan patuh rasa kecintaaan kita kepada Allah akan semakin bertambah, dan ada hubungan spiritual saat mendengar kalamullah.

“…. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka….. “ (QS. Al-Hajj : 34-35)

Ya ! itulah satu-satunya cara agar kita mampu mencapai puncak keimanan, dimana hati dan kulit kita bergetar saat disebutnya Nama Allah yang Maha Agung, dan merintih meneteskan air mata kita saat kita mendengar tentang-Nya. Oleh karena itu sedari sekarang usahakan dalam sehari kita berusaha untuk menangis karena Allah, karena dengan menangis itu akan turut membantu menggetarkan hati kita.
Itulah tanda iman yang pertama, Sudahkah kita memilikinya ? sudahkah kita pernah merasakan walau hanya sekali ? setiap manusia pasti pernah merasakannya ! Namun, orang yang beriman tidak peduli susah atau senang, tidak peduli kapanpun, dimanapun, bagaimanapun Tatkala mendengar kalam Allah gemetarlah hati mereka, basahlah matanya, menangis terisak-isak, dengan begitu maka bertambahlah iman kita. itulah MUKMININ SEJATI…. !
mArilah menjadi mukminin sejati, yang selalu bergetar hatinya bila mendengar Ayat-ayat Allah, tingkatkan rasa tunduk dan patuh kita kepada Allah, dengan senantiasa berdzikir, meningkatkan iman kita, hingga menjadi Iman yang sempurna, sehingga kita tergolong menjadi golongan orang yang beriman kelak di akhirat, dikumpulkan di Surga dengan para Anbiya’, Para orang sholeh, para Sahabat, hidup bahagia di Surga yang kekal Abadi. Amiiin…. (imq)

Tahun Baru , Pribadi Yang baru

TAHUN BARU, PRIBADI YANG BARU
OLEH : IN’AMUL MUTTAQEN

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari kita lalui tanpa terasa sudah berpuluh-puluh minggu, hingga berbulan-bulan, kita lewati dengan segala rutinitas sehari-hari kita, ada yang sibuk bermain bagi anak kecil, ada yang sibuk sekolah dan kuliah, menuntut ilmu, membaca buku-buku, demi mengejar cita-cita, dan ada pula yang sibuk dengan bekerja, membanting tulang, mencari nafkah, demi memberi makan anak istri. Semua aktivitas itu tanpa kita sadari, sudah kita lakukan terus menerus hingga di hari ini.

Namun, ketahuilah ! sudah seimbangkah aktivitas kita dengan ibadah yang kita lakukan ? jika sudah, mari kita tingkatkan, dan jika belum mari di tahun baru ini kita ganti pribadi kita, menjadi pribadi yang senantiasa beribadah, beribadah kepada Allah. Namun, sebagai manusia, tidaklah mungkin bagi kita melaksanakan ibadah terus menerus sepanjang hari, karena sebagai manusia pada layaknya butuh tidur, makan dan minum, bekerja melaksanakan aktivitas. Lalu, bagaimana caranya agar dalam kegiatan kita senantiasa dibarengi dengan ibadah ? cukup ucapkan bismillah saat mengawali, serta diiringi dengan dzikrillah saat melaksanak aktivitas, serta diakhiri dengan alhamdulillah saat menyudahi aktivitas kita. Insya Allah semua aktivitas kita akan bernilai ibadah, menambah pundi-pundi pahala kita !

Sehingga agar semua kegiatan kita bernilai ibadah, mari kita biasakan dari sekarang, membaca Basmallah sebelum melaksanakan sesuatu, dan membaca Tahmid, seusai melaksanakannya. Sehingga, apa yang kita kerjakan tercapai sukses, dan mampu mendapatkan pahala. Seperti kata pepata, ”sambil menyelam minum Air” sehingga Amal dunia yang kita lakukan tidak mengganggu amal akhirat yang kita butuhkan kelak di yaumul akhir.

Di tahun yang baru ini ! mari kita berantas segala tingkah buruk kita, kita kurangi kebiasaan-kebiasaan yang tidak berguna, yang tidak bermanfaat bagi diri kita, contohnya kebiasaan-kebiasaan yang buruk seperti, WAKTU TAHAJUD, kebiasaan manusia pada umumnya justru meneruskan tidurnya, padahal jika kita isi dengan Sholat lail itu akan lebih baik. Lalu SETELAH SHOLAT SHUBUH, kebiasaan manusia jaman sekarang setelah sholat shubuh mesti diisi dengan tidur, andai kita isi dengan membaa AL-Qur’an, atau membaca buku, serta mengerjakan tugas atau bisa diisi dengan Olahraga, tentunya lebih bermanfaat, jika kita membaca AL-Qur’an semakin mendekatkan diri kepada Allah, memahami kitab suci tersebut, jika kita belajar, semakin menambah keping-keping ilmu di otak kita, jika kita olahraga selain menyehatkan raga kita, kita menjadi semakin semangat dalam menjalani hari.

Lalu di PAGI HARI, kita jalani aktivitas kita dengan niat ibadah, mencari ridho Allah, sehingga saat kita bekerja atau sekolah perasaan hati akan tenteram, segar, dan mampu mnegerjakan tugas-tugas dalam rutinitas kerja atau dalam sekolah. Lalu, pada malam hari, pada umumnya kita menggunakan momen itu, untuk jalan-jalan ke tempat maksiat, Naudzubillahi min Dzalik ..! padahal andai kata kita isi dengan Mengaji, atau melakukan ibadah tentunya lebih baik. Lalu, pada malam hari di saat waktunya orang tidur, kita justru begadang, tidak tidur tanpa alasan yang jelas, padahal andaikan kita tidur tepat pada waktunya, tentunya banyak manfaat yang akan kita peroleh, pada saat tahajud kita tidak begitu mengantuk, sehingga kita bisa tahajud, dan pada keesokan harinya kita bisa menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa mengantuk...

Mari kita rubah kebiasaan kita, tingkatkan kebiasaan yang baik bagi kita, dan kurangi dan berantas kebiasaan yang kurang baik bagi kita agar kita menjadi pribadi yang baik, yang selalu bermanfaat bagi masyarakat, agama, nusa dan bangsa. Maka pada momen tahun baru hijriyah ini, marilah kita menjadi pribadi yang sholeh, pribadi yang senantiasa beribadah kepada Allah, pribadinya para sahabat ra., dan semoga dengan berubahnya kita menjadi pribadi yang baik, semua do’a atau harapan yang belum terkabul pada tahun baru ini, semoga semuanya bisa terkabulkan, dan semakin bertambah rezekinya.

Menjauhi Ragam perbuatan syaithoniyah

Menjauhi Ragam Perbuatan Syaithoniyah
OLEH : IN’AMUL MUTTAQIEN

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al-A’raf : 201)
Dari Ayat Diatas Sudah Jelas Tanda Takwa Selanjutnya Adalah Ingat Kepada Allah Dan Menghindari Dari Ragam Perbuatan Syaithoniyah. Kenapa harus begitu ? karena jika kita sudah was-was dari syaitan, dan ingat kepada Allah pada lanjutan ayat diatas disebutkan bahwa kita akan melihat kesalahan kita, sehingga kita tidak mungkin melakukan kesalahan lagi.
WAS-WAS DARI SYAITAN
Manusia adalah musuh abadi dari Syaitan, syaitan akan selalu menggoda kita tak peduli dimanapun, kapanpun, tak peduli sendiri, berkumpul bersama orang-orang, mereka selalu menggoda kita. Mereka akan berusaha keras agar manusia tergoda oleh tipuannya, dan melaksanakan perbuatan Syaithoniyah, melupakan amal ibadah kepada Allah, tidak berdzikir, tidak pula mendirikan sholat. Itulah apabila kita tidak was-was terhadap tipu daya syaitan. Kita justru tidak pernah melaksanakan perintah Allah, dan justru tidak pula menghindari larangan Allah.
Setan mempunyai tipu daya yang hebat untuk menggoda manusia agar melakukan perbuatan-perbuatan dosa besar. Cerita berikut ini adalah salah satu contoh yang diriwayatkan dari Nabi SAW.
Setan mendatangi seorang gadis dan mencekik gadis itu sehingga tak sadarkan diri. Setelah setan melakukan perbuatan itu, ia lantas mendatangi keluarga korban dan membisikkan kehati keluarga itu bahwa obat yang dapat menyembuhkan gadis itu ada pada seorang rahib dari bani Israel. Keluarga gadis segera mencari rahib yang dimaksud setelah mereka menemukannya, dibawalah sigadis kepada rahib. Tetapi rahib menolak untuk menerima gadis itu. Meskipun ditolak, keluarga gadis terus menerus mendesak, sehingga maulah ia mengabulkan harapan keluarga untuk mengobati korban. Akhirnya sang rahib mengalah. Terpaksalah ia menerima gadis itu.
Keluarga gadis segera meninggalkan gadis pada rahib. Sewaktu keluarga gadis telah tak ada dan rahib sudah bersiap akan mengobatinya, datanglah syetan membisikkan agar ia mau berbuat tak senonoh kepada si gadis. Rahib terus menerus digoda sehingga ia akhirnya tak kuasa menampik bujukan syetan. Rahib menyetubuhi sang gadis yang seharusnya ia obati. Akhirnya, gadis malang itupun berbadan dua. Waktu gadis malang itu telah hamil, syetan datang lagi menemui rahib. Ia terus menerus membisikkan dan menakut-nakuti rahib.
" Sekarang akan terbongkar rahasiamu. Bila keluarga gadis itu datang mengambil anaknya kembali, tentu mereka akan mengetahui perbuatan ini. Bunuh saja gadis itu ! Nanti bila keluarganya datang bilang saja ia sudah mati." Demikian rayu syetan kepada rahib. Akhirnya, rahib itu membunuh gadis malang tadi. Mayat gadis tersebut ia kuburkan.
Syetan segera mendatangi keluarga gadis dan membisikkan ke hati mereka bahwa rahib telah menodai anak mereka sehingga hamil dan akhirnya membunuhnya. Ramai-ramailah keluarga gadis mendatangi rahib dan menanyakan gadisnya. Rahib menjawab seperti yang dibisikkan syetan kepadanya.
" Ia sudah mati !"
Keluarga gadis marah besar dan serempak mereka menangkap sang rahib. Mereka berniat segera membunuh rahib sebagai balasan atas kematian anak gadis mereka. Pada waktu itu pula syetan datang dan berkata pada rahib. " Akulah yang telah mencekik gadis itu. Aku juga yang sudah membisikkan ini dan itu kepada keluarga gadis. Bila kamu mau selamat, maka satu-satunya cara adalah agar kamu mau patuh kepadaku. Kamu akan bisa aku bebaskan dari pembalasan mereka !"
" Dengan apa ?" tanya sang rahib pada syetan
" Sujudlah kepadaku dua kali !"
Rahib itupun segera bersujud dua kali kepada syetan. Syetan lalu berkata :" Aku bebas daripada perbuatanmu !"
Maka oleh karena itu, kita dituntut agar selalu was-was kepada Syaitan, karena ketahuilah iman kita itu sering berubah-ubah, kadang iman kita kuat, terkadang pula iman kita lemah. Nabi Adam as. Dan Siti Hawa yang mempunyai iman yang kuat pun tak kuasa menahan tipu daya Syaitan dan memakan buah Khuldi yang jelas-jelas dilarang oleh Allah. Namun, begitulah karena kita tidak mampu waspada terhadap syaitan. Sehebat apapun kita, jika tidak waspada terhadap syaitan pasti akan terkena tipuannya.
Sehingga, Tips Utama agar kita was-was kepada syaitan, hanyalah dengan ingat Allah, Berdzikir kepada Allah, melaksanakan perintah kepada Allah, beribadah. Sehingga kita akan terhindar dari tipuan syaitan, dan tidak mengerjakan yang sepatutnya tidak dikerjakan, sehingga kita menjadi golongan Muttaqien yang senantiasa beribadah kepada Allah. Mari Ingat Allah, Agar kita waspada terhadap tipuan syaitan serta terhindar dari ragam perbuatan syaitoniyah. (imq)

Tanda-tanda Kebahagiaan

Tanda-Tanda Kebahagiaan
OLEH : KH. THOHA MUNTAHA

Dalam kehidupan yang fana ini, sering kali kita mendapati sesuatu yang menyenangkan dan tak jarang pula kita mendapatkan sesuatu yang menyusahkan. Dalam Kitab Durratun Nasihin dijelaskan, bahwa tanda-tanda kebahagiaan & Kesengsaraan seorang manusia ada 11, yaitu :

1) MENJAUHKAN DIRI DARIPADA URUSAN DUNIA

Orang yang bahagia selalu menjauhkan diri dari perkara dunia, dan senang kepada urusan akhirat. Karena orang yang lebih mementingkan akhirat, orang tersebut mempunyai pikiran yang jauh, selalu berpikir ke depan. Sebaliknya orang yang sengsara adalah orang yang rakus terhadap harta dunia.

2) KUAT TERHADAP IBADAH DAN MEMBACA AL-QURAN.

Selanjutnya, orang akan bahagia apabila dia selalu disiplin melakukan ibadah, serta rajin membaca AL-Qur’an. Dia tidak akan melewatkan sedetik waktunya untuk beribadah kepada Allah. Orang yang selalu beribadah, maka akan dekat dengan Allah. Maka, semua perbuatannya tidak akan lepas dari Ayatullah. Sehingga segala yang dia pikirkan, dia ucapkan, selalu baik. Tanda sengsara yang kedua, adalah dimana ada pribadi yang tak mau melaksanakan ibadah, dan tidak mau membaca AL-Qur’an.

3) SEDIKIT BICARA

Orang yang bahagia tidak banyak bicara kecuali yang diperlukan, seperti slogan iklan sebuah produk rokok, “Talk Less Do More” Sedikit bicara banyak bekerja. Memang di dunia ini yang dibutuhkan adalah bukti, apaguna kita bicara jika kita tidak bisa mengamalkan. Nabi bersabda, “Lebih Baik diam daripada membicarakan hal-hal yang tidak berguna”.
Orang yang sengsara senantiasa membicarakan sesuatu yang tidak berguna, membicarakan aib orang lain. Dan juga masuk tergolong Kelompok NATO (Not Action Talk Only : tidak bekerja hanya bicara).

4) MENJAGA SOLAT LIMA WAKTU

Tanda bahagia yang ke-4 adalah Menjaga sholat lima waktu. Orang yang selalu menjaga sholat lima waktu, akan terbiasa disiplin, Menghargai waktu, mampu membiasakan melakukan sesuatu yang baik.

5) MENJAGA DARI YANG HARAM

Sesuatu yang haram dan syubhat cenderung meragukan, dan bahkan merugikan bagi diri kita yang mengamalkan. Oleh karena itu, jika kita terbiasa menjaga dari sesuatu yang haram dan syubhat, kita tidak tergolong orang yang merugi. Seperti, Khomr (minuman keras) jika kita menghindarinya, maka kita termasuk orang yang beruntung, karena kita menjauhi minuman yang mengandung racun.
Sebaliknya, Orang yang sengsara selalu mengamalkan sesuatu yang haram, bayangkan Khomr / racun diminum. Betapa sengsaranya orang tersebut, minuman yang setiap tetesannya sangat merugikan bagi jiwa dan raga.

6) BERSAHABAT DENGAN ORANG YANG SOLEH

Teman, merupakan salah satu faktor penentu kebahagiaan kita. kenapa ? karena seperti apa teman kita, cenderung menggambarkan siapa diri kita. seperti, apabila kita berdekatan dengan penjual minyak wangi maka kita akan ketularan wanginya. Maka, orang yang bahagia itu adalah orang yang bersahabat dengan orang yang sholeh, sedangkan orang yang sengsara adalah orang yang bersahabat dengan orang fasik, orang yang selalu menndustakan agama.

7) BERSIFAT MERENDAH DIRI (TIDAK SOMBONG)

Orang yang senantiasa bahagia dalam hidupnya, selalu rendah diri, tidak menyombongkan apa yang dia bisa, apa yang dia punya. Karena mereka beranggapan segala yang ada di bumi dan langit ini adlaah milik Allah. Dan Hanyalah Allah-lah yang mampu dalam segala hal. Sebaliknya, orang yang sengsara adalah orang yang buruk pengarainya, orang yang selalu sombong, melakukan perkara-perkara yang buruk.

8) DERMAWAN YANG IKHLAS.

Orang yang selalu mendermakan hartanya untuk orang yang membutuhkan, adalah tanda kebahagiaan. Sebaliknya orang yang pelit, yang enggan memberikan sedikit hartanya, merupakan ciri orang yang sengsara.

9) BELAS KASIHAN TERHADAP MAKHLUK-MAKHLUK ALLAH YANG LAIN.

Orang yang bahagia, selalu kasihan terhadap saudara-saudara yang lain. Tidak tega melihat makhluk lain, khususnya orang yang beriman tersiksa, teraniaya. Sedangkan, orang yang sengsara mempunyai sedikit rasa kasih sayang terhadap sesama, mereka tega, bahkan tidak peduli tatkala ada saudara sesama muslim meraung-raung kelaparan, tidak mampu membeli segenggam beras. Masya Allah !


10) BERMANFAAT KEPADA ORANG LAIN.

Seperti hadits nabi, “Khoirrun-Nas Yanfa’ahum linnas” yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Disini orang yang selalu mengorbankan waktu, tenaga, serta materi untuk orang lain merupakan tanda orang yang bahagia. Mereka selalu, membantu di saat ada yang membutuhkan.
Sebaliknya orang yang sengsara, adalah orang yang selalu merugikan orang lain, dimana ada dia orang lain serasa merasa kesal, pekerjaannya hanya meminta-minta, membuat temannya susah. Itulah tanda orang yang sengsara.

11) SELALU INGAT MATI

Inilah tanda kebahagiaan yang terakhir, yaitu ingat mati. Allah berfirman, “Kullun Nafsun da’iqotul maut” yang artinya : setiap yang bernafas itu akan mati. Sama halnya dengan diri kita, setinggi apapun jabatan kita, sekaya apapun kita, kita tidak bisa terhindar dari incaran Malaikat Izrail. Oleh karena itu, orang yang selalu ingat mati itu selalu waspada, dan tidak mau melakukan hal-hal yang sia-sia. Karena mereka berprinsip, “Bekerjalah untuk akhiratmu seolah kau akan mati esok hari, dan bekerjalah untuk duniamu seolah kau akan mati tahun depan”.

Itulah tanda-tanda kebahagiaan dan kesengsaraan, yang bilamana amal yang kita kerjakan yang akan menentukan, tergolong orang yang bahagiakah kita ? atau sebaliknya orang yang sengsara. Semoga, kita tergolong orang yang bahagia dunia akhirat, Amiin (imq)

Menjadi Insan yang akhirat Oriented

Menjadi Insan Yang Akhirat Oriented
OLEH : KH. THOHA MUNTAHA

PRAGMATISME VS IDEALISME

Terlalu Sembrono jika membangun tata kota mengabaikan unsur AMDAL, ketika masih bernama Batavia belanda sudah mempersiapkan banjir kanal karena mereka sadar posisi Jakarta tak berbda jauh dengan Amsterdam rawan banjir. Banjir besar Jakarta yang terjadi hampr tiap tahun adalah akbat kuatnya arus pragmatisme dan lemahnya idealsme
Seorang pemuda tergolek lemah di panti rehabilitasi narkoba, tubuh kurus, mata cekung, asma akut, batuk tak pernah henti, kenapa ?
Borjuis, glamour, permisif, uang di tangan, free sex, pergaulan bebas dan pecandu berat narkoba, adalah life stylenya saat masih sehat.
Ideology pragmatisme merasuk sumsumnya hingga tiba-tiba dunia gelap, langit seakan runtuh, bumi bergetar keras, saat vonis aids terdengar di telinganya.

AKHIRAT ORIENTED

Berpikiran Akhirat atau Berpikir ke depan merupakan ciri Muttaqien yang ketiga. Orang yang mempunyai Jiwa Akhirat selalu Taat aturan main, visioner, waspada, teliti, mengutamakan produktivitas, kreatif, inovatif, kompetitif, menghargai proses, adalah kristalisasi kesadaran ukhrow, yang dengan balutan hdayah jadilah baju taqwa. Yang menjadi simbol idealisme.
Kenapa anda tidak merokok ? padahal remaja seusia anda banyak yang jadi pecandu rokok, demi masa depan yang sehat dan produktf, haram tenggorokan saya menghisap asap rokok. Jawaban seperti ini adalah bagian dari irama idealisme, berorientasi ukhrowi adalah idealisme yang orang-orang modern sering mengabaikannya.

Allah Berfirman :
“(yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Fushilat : 7)

Lawan kata akhirat adalah dunia = dekat, sedang akhirat = jauh ke depan, berorientasi akherat adalah berfikir jauh ke depan, munculnya fenomena pemanasan global, perubahan iklim, labilitas alam, ancaman nuklir merebaknya aids tak lepas dari polah tingkah manusa yang mengeksploitasi alam dan system moral hingga terjadilah apa yang disebut “fasad”, Seperti yang difirmankan Oleh Allah :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41)

Hidup tak berhenti saat jantung tak berdenyut , justru kehidupan yang amat panjang dan jauh dimulai saat darah tak mengalir. Saat itulah terjadilah “NGUNDUH WOHING PAKERTI” karenanya selagi hidup di dunia (Alam dekat) usahakan sebagai lahan investasi akherat (alam jauh), taat kepada Allah, berbuat baik, memberi manfaat, mewaspadai ragam kerugian menghndari madlarat, konsisten pada sunnah rasul adalah life-style akhirat. Dalam Al-Qur’an Tertulis :

“Barangsiapa yang kafir Maka Dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan Barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan),” (QS. Ar-Rum : 44)
Sebagai umat muslim kita harus memiliki Keyakinan bahwa akhir lebih baik daripada permulaan.

“Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
(QS. Ad-Dhuha : 4). Selain itu kita juga harus berkeyakinan bahwa kehidupan di akhirat lebih baik dan kekal. Allah Berfirman kembali :

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la : 17)

Dan apabila kita sudah memiliki kedua keyakinan tersebut, dan sudah kita tanamkan dalam hati kita. maka atribut taqwa atau Muttaqien akan merasuk ke dalam jiwa kita. dan janji Allah kepada Orang bertaqwa akan kita dapatkan pula. Oleh karena itu, Marilah kita Berpikir ke depan sebelum melakukan segala sesuatu, niscaya semua masalah akan terselesaikan, semua tantangan akan terlewati. Sebaliknya, apabila kita terlalu berpikiran sempit (Dunia) maka, tantangan akan semakin rumit, masalah dan tak kunjung usai. Be Akhirat Oriented.

JUJUR dalam TUTUR, KATA, & PERILAKU

JUJUR DALAM TUTUR, KATA, & PERILAKU
OLEH : KH. THOHA MUNTAHA

Pada ayat diatas disebutkan bahwa setiap orang yang menepati janji itu termasuk orang yang meninggikan kejujuran. Di setiap diri manusia terdapat sifat yang berbeda-beda, oleh karena itu kita harus bisa senantiasa membuat diri kita sendiri untuk selalu mengandalkan kejujuran untuk maslahat kita bermasyarakat. Di dalam sebuah kejujuran terselip hati yang sangat bagus untuk selalu mengingat allah, dengan kita selalu berkata jujur kita akan terbiasa melatih keimanan kita untuk selalu berbuat kebaikan. Oleh karena itu janganlah meremehkan kejujuran karena jujur kita bisa menjalankan satu kehidupaan ini dengan tentram. Dan jujur itu membawa kita untuk disukai oleh setiap makhluk allah SWT.
Dalam sebuah hadist, Kejujuran termasuk ke dalam enam perkara yang dapat memasukkan kita ke surga. Dari Ubaidah Bin Shamit, Rosululloh bersabda : “jaminkan untukku enam perkara dari diri kalian, maka akan aku jamin untuk kalian masuk surga (yaitu) : 1. Jujurlah jika kalian berbicara, 2. Tepatilah jika kalian berjanji, 3. Tunaikanlah bila kalian diberi amanah, 4. Jagalah kemaluan kalian, 5. Tundukkanlah pandangan kalian, 6. Tahanlah tangan kalian (untuk berbuat yang tidak baik).
Terkadang, kita menganggap berbuat jujur itu sangat sulit, tapi meski sesulit apapun, sedarurat mungkin, kita tetap dituntut untuk berpreilaku jujur, seperti firman Allah “Qulil-Haq Walau Kana Murran” katakan yang sebenar-benarnya walaupun itu pahit. Kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kepercayaan (kredibilitas), begitu pula bila sebaliknya dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
Biasakanlah selalu jujur dimulai dari hal yang paling sederhana dan kecil sekalipun, walaupun terhadap anak kecil, karena sesunggunya Allah menilai perilaku kita, yakinlah tak akan pernah untung sama sekali dengan ketidakjujuran selain kerugian yang mendera dan menghancurkan, sudah terlalu banyak bukti di sekitar kita untuk dijadikan pelajaran. Berikut tips-tips agar kita senantiasa mampu mengucapkan perkataan yang benar :
1. Jangan sekali-kali berbohong atau terpancing untuk menambah omongan sehinga menjadi dusta walau dalam gurauan sekalipun.
2. Jangan pernah mudah membuat janji, pastikan setiap janji yang diucapkan sudah diperhitungkan matang-matang, dan berusaha keraslah untuk memenuhi janji.
3. Tepat waktulah dalam segala hal, jangan terlambat atau gemar menunda-nunda atau mengakhirkan.
4. Biasakanlah memiliki data dan fakta yang jelas, dan bersikaplah terbuka.
5. Milikilah kemampuan dan kesungguhan mengevaluasi diri, dan segera perbaiki diri begitu ditemukan kesalahan serta bertanggungjawablah dengan sungguh-sungguh dan tulus.
6. Jangan pernah patah semangat bila didapati masa lalu kita pernah atau banyak keidakjujuran.
Seorang Hamba Allah yang namanya tercantum dalam surat Al-Qur’an yaitu, Luqman. Ia berkata, "Sesunguhnya tiada perkara yang lebih baik daripada lidah dan hati jika keduanya baik dan tiada perkara yang lebih buruk daripada lidah dan hati jika keduanya buruk." Pernah Suatu kali dia didatangi seseorang, lalu bertanya, "Apa yang dapat mengantarkanmu kepada kebajikan dalam bertutur?" Luqman menjawab, :Berkata jujur dan tidak mengatakan hal yang tidak penting."
Jadi, janganlah kita senantiasa mengucapkan perkataan yang sia-sia, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang hanya membawa kemaksiatan pada kita. berkatalah yang penting saja, jangan suka mengarang cerita, ketahuilah membohongi sesama manusia adalah perbuatan yang sangat dibenci. Bagaimana perasaan anda ketika dikhianati, bagaimana hati anda ketika dibohongi.
Selanjutnya, selain jujur dalam perucapan, kita juga harus selalu menepati janji yang telah kita ucapkan maka sifat kepercayaan dari orang lain pun timbul dengan sendirinya, kita selalu disegani oleh orang lain, dengan itu pasti kita akan diberi amanah dari orang lain, dengan pemberian kepercayaan tersebut kita melakukan dengan segala usah untuk selalu menjaga amanah dari orang lain maka kita senantiasa akan diberi ketenangan didunia maupun besok kelak diakhirat.
Marilah kita bersama-sama menjaga apa yang telah kita dapatkan dari allah dengan baik, kita jalankan hidup kita dengan aturan-aturan yang sudah ditentukan oleh allah Swt, dengan kita selalu melakukan perbuaan amal sholeh seperti enam perkara yang diatas maka kita termasuk orang yang bertaqwa. (c-anm)

Menjunjung Tinggi Nilai Kebajikan : TAQWA 1

Kebajikan merupakan salah satu tanda taqwa yang pertama sesuai dengan firman Allah :

“… akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa… “
(QS. Al-Baqoroh : 189)

Derajat atau Kebajikan (AL-BIRR) itu derajat kebaikan yang terbaik. Melebihi derajat hasan (Baik), bahkan juga melampaui derajat KHOIR (Lebih Baik). Lalu Bagaimana Al-Birr itu, Allah Berfirman :
“ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu Kebajikan, akan tetapi sesungguhnya Kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqoroh : 177)
Kebajikan adalah memberikan segala milik yang terbaik untuk dikeluarkan kepada yang membutuhkan. Contoh : tatkala di dompet kita terdapat uang pecahan 20 ribu, 50 ribu, 100 ribu. Di kala kita diminta memberikan amal jariyah / shodaqoh masjid. Maka jumlah uang kita ambil adalah standar kebajikan kita. Jika kita mengambil yang 20 ribu maka kita tergolong orang yang baik (hasan), jika yang 50 ribu kita masuk golongan khoir, dan jika kita memberikan 100 ribu atau yang terbaik, maka itulah al-birr yaitu kebajikan yang tertinggi.

Kebajikan atau al-birr juga dapat didefinisikan rela memberikan segalanya, atau semua yang kita miliki, atau yang lebih banyak itulah al-birr. Seperti abu bakar ash-shiddiq yang berkata : “kuberikan semua hartaku ke jalan Allah ya rasullah, semua masalah dan perkara anak dan istriku kuserahkan kepada allah swt.“
Al-birr juga dapat dikatakan memberikan milik kita satu-satunya yang dimana kita sangat membutuhkan benda itu, dan hanya benda-benda itu yang kita punya. Suatu kisah Rasulullah didatangi oleh seorang hamba yang membutuhkan modal untuk berbisnis, dan di kala itu Rasulullah tidak mempunya apa-apa. Tapi rasul tetap menyetujui permintaan hamba tersebut, ditanya kepada Anaknya fatimah, ya anakku apa yang kau punya untuk diberikan kepada pemuda itu. Ya Ayahku hanya kalung maskwin yang ku punya. Di minta kalung itu oleh rasulullah, dan diberikannya kepada pemuda itu. Dijuallah kalung itu, ke toko perhiasan. Karena merasa tidak asing dengan kalung yang ditawarkannya, ditanya pemuda itu, “darimana kau da[at kalung itu ?” aku dapat dari Rasulullah, jawab Pemuda itu. Penjual Perhiasan itu tahu bahwa kalung itu adalah yang dibeli Ali bin Abi Thalib untuk mas kawin fatimah. Sehingga dikembalikan lagi kalung itu ke Fatimah. Itulah manfaat al-birr. Dengan rela dan ikhlas, allah pasti akan membalasnya.
Coba dengan kita, jangankan memberikan yang terbaik, memberikan sesuatu yang nominalnya paling rendah saja kita enggan, lebih-lebih mengeluarkan nominal yang tertinggi. Atau saat kita dipaksa memberikan benda satu-satunya yang kita sayangi, itu terbukti saat kita diminta menyumbangkan pakaian ke korban bencana alam, kita pasti memberikan baju bekas kita, baju dengan merek biasa. Padahal setiap hari kita membeli dan mengenakan baju yang bagus terus. Tidak malukah kita dengan hal itu ?.
Sekarang mari kita renungi ! tergolongkah kita ke dalam kategori Al-Birr. “ Fastabiqul Khoirot “ berlomba-lombalah kita dalam mencari kebajikan. Jangan malu untuk berbuat kebajikan, janganlah takut untuk berbuat kebajikan, saat ini orang berbuat keburukan seperti maling, koruptor saja tidak malu bahkan tidak takut untuk perbuatan yang hina. Lalu, kenapa kita malu dan takut untuk melakukan kebajikan. Sehingga dari sekarang, marilah kita berbuat kebajikan. Mungkin kita belum mampu melaksanakan ibadah selayaknya para anbiya’, para salafus sholihin, tapi selalulah berbuat kebajikan. Lakukan semampu kita. (C-Anm)

Dengan Keyakinan , kita Bisa

“Di Dalam jasad yang baik tersimpan hati yang baik pula. sebaliknya,
Di Dalam jasad yang buruk tersimpan pula hati yang buruk.”

Dari hadits di atas diterangkan bahwa apa yang akan terjadi pada jasad kita, itu semua tergantung pada apa yang terjadi pada hati kita. apabila kita memikirkan hal-hal yang baik, maka pikiran dalam hati itu akan dikonversikan menjadi amal yang baik. Sebaliknya, jika dari awal hati kita sudah memikirkan sesuatu yang buruk, meski hanya berawal dari niat. Bukan tidak mungkin terjadi hal-hal yang diinginkan, tapi jika hati kita sudah memikirkan hal-hal yang buruk, kebanyakan amal yang dihasilkan juga pasti akan buruk.
Untuk itu, kita dituntut untuk selalu memperbaiki hati kita dan selalu mengoreksi hati kita agar apa yang kita lakukan dan amalkan selalu melakukan mendapatkan ridho Allah, bukan justru mendapatkan murka-Nya Allah, karena ridho Allah tidak hanya diberikan kepada Anbiya’, Alim’ Ulama, Salafus Sholihin. Tetapi Ridho Allah itu diberikan oleh seluruh umat Islam yang beriman. Jadi, bukan tidak mungkin jika manusia biasa layaknya kita mempau memperoleh ridho-Nya Allah, karena selalu menata hati setiap melakukan sesuatu. Oleh karena itu, marilah kita selalu terus melakukan kebajikan. Yang sebutan lainnya adalah istiqomah fil ibadah.
Suatu keyakinan itu sangat mahal harganya dibandingkan alam seisinya. Karena itu, dengan keyakinan kita bisa melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Seperti, apabila kita yakin kita bisa menaiki sepeda motor, maka dengan keyakinan ditambah dengan bekerja keras, maka kita pun bisa menaiki sepeda motor tersebut. Dengan keyakinan itulah, kunci awal kesuksesan, dan karena Allah selalu membantu Hamba-Nya yang mau berusaha. Begitu pula saat kita yakin bahwa kita bisa mengemudikan mobil maka tentunya kita pasti akan bisa mengemudikan, meski pada awalnya akan terasa susah, namun dengan keyakinan tersebut maka kesusahan itu akan hilang. Maka sangguplah kita melakukan apa yang kita inginkan, apa yang kita dambakan, harapkan, dan kita cita-citakan.
Seperti Nabi Musa as saat dikejar-kejar oleh tentara Fira’un, secara logika mungkin Nabi Musa tidak mungkin bisa lolos dari sergapanpara Tentara Fir’aun, karena Nabi Musa sudah tersudutkan dengan Laut dan Tentara Fir’aun. Namun, karena dia yakin bahwa Allah akan melindunginya, dan ternyata benar dengan satu ketukan tongkatnya. Semua air laut membumbung tinggi, membentuk sebuah jalan agar dilewati Nabi Musa dan Kaumnya. Itulah manfaat apabila kita yakin.
Begitu pula tatkala Nabi Ibrahim as akan dihukum oleh Raja Namrud, dia akan dibakar hidup-hidup karena telah berani menghancurkan semua berhala kerajaan. Semua kayu-kayu sudah tersusun rapi di tempat Eksekusi Nabi Ibrahim. Ditambah tentara membawa tongkat yang sudah menampakkan api. Begitu pula dengan Nabi Ibrahim yang sudah diletakkan di tempat eksekusi. Ibu, Teman, dan Umatnya menangis tidak tega tatkala api sudah menyebar dari satu kayu ke kayu yang lain. Tapi mereka tidak mempunyai kuasa apa-apa, karena ini adalah keputusan Raja. Namun, Nabi Ibrahim dengan teguh keyakinannya kepada Allah. Bahwa yang dilakukannya adalah benar adanya, dia berani menghancurkan berhala-berhala itu karena Allah. Dan benar, ketika api sudah menyebar ke seluruh tubuh Nabi Ibrahim, Allah menjadikan api tersebut menjadi dingin. Sehingga meski telah dibakar hidup-hidup, jangan kulitnya yang panas terkena api, semua Rambut tidak terbakar sedikitpun., dia yakin bahwa Allah sendiri yang akan membantunya dengan membaca Hasbunallah wani’mal wakil n’imal maula wani’mannasyir.
Sebuah permisalan, keyakinan itu bagaikan air mendidih yang terus dipanasi. Jadi ya, tentu saja semakin panas air tersebut. Kita sebagai umat muslim yang taqwa kepada Allah, hendaknya jangan sampai keyakinan kita keluar dari jalur yang diridhoi oleh Allah. Dengan keyakinan yang mantap, maka hati kita pun tenang dan apabila hati kita tenang maka jasad kita pun akan membaik karena hati adalah kekebalan untuk tubuh kita. Maka dapat disimpulkan bahwa bangkitnya anggota tubuh merupakan bisikan dari hati. Kecuali ada irodhah dalam tubuh kita. Jika hati kita baik maka hasil dari perbuaan kita pun baik sebaliknya apabila hati kita rusak maka perbuatan yang ditimbulkan dari hati kita pun ikut rusak. Maka dari itu, untuk memantapkan keyakinan kita, haruslah kita yang mencari hidayah. Jangan malah kita yang menunggu hidayah. Karena hidayah tidak mendatangi kita, tetapi kita yang mendatangi hidayah. Tapi, pada jaman sekarang, banyak orang-orang yang sering melakukan maksiat bila diajak pada kebaikan mereka selalu berkata: “Ah, aku masih belum dapat hidayah nih, nanti aja nunggu hidayah dari Allah. Nah, orang-orang yang seperti mereka itulah yang sangat-sangat merugi. Karena mereka menaruh keyakinan mereka kepada datangnya hidayah, bukan keyakinan meraih hidayah melalui usaha mereka sendiri.
Cara agar hati kita tetap memiliki ketenangan ada dua, yaitu:

1. Dengan memasrahkan hati kita kepada Allah
2. Menanamkan rasa keyakinan yang kuat pada hal-hal yang haq

Ingatlah percaya itu belum berarti yakin, tetapi yakin itu pastilah sebuah kepercayaan yang pasti. Karena yakin adalah kepercayaan yang terdalam, dimana selain percaya kita juga menuruti apa yang kita yakini, dan tidak melakukan apa yang dilarang atas apa yang kita yakini.
Marilah kita tiru keyakinan para Nabi-Nabi Terdahulu, yakin yang terdalam, yakin yang hakiki, dimana semua yang kita inginkan apabila kita yakin, maka tentunya semuanya itu akan terkabulkan Oleh Allah swt. Dengan Yakin Kita Bisa, Bersama Allah Kita Bisa. (C-Anm)

Memahami Makna Lailatul Qodar

Allah SWT telah memberikan beberapa keistimewaan kepada ummat Muhammad SAW, diantaranya dengan mengutus seorang utusan pilihannya dan menurunkan kitab pedoman dan tuntunan hidup untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat yang diturunkan pada malam penuh berkah. Malam yang terbaik dan istimewa dibanding malam-malam lainnya. Malam yang apabila seorang hamba beribadah dimalam itu lebih baik dari seribu bulan (83 tahun, lebih 4 bulan) ialah malam Lailatu Qadr sebagaimana firman Allah SWT. Yang artinya.
Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam Lailatul qodr. Dan tahukah kamu apakah Lailatul qadr itu? Lailatulqadr itu lebih baik dari seribu bulan. Malaikat dan Ruh (Jibril) turun padanya dengan izin tuhannyamembawa segala perintah. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr)
Dan dalam surat al-Dukhon, Sesungguhnya kami menurunkannya (al-Quran) pada malam yang diberkati, sesungguhnya kami adalah memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan setiap urusan yang bijaksana. (QS. Ad-Dukhon 3-4)


Asal Mula Nama Lailatul Qadr
Sesuai firman Allah SWT dalam surat al-Qadr diatas, Allah menyebutnya dengan malam lailatul Qadr karena keagungan dan kemuliaan malam itu disisi Penciptanya, malam itu banyak dosa-dosa yang terampuni, dan kesalahan-kesalahan tertutupi sebab malam itu adalah malam pengampunan, seperti dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh RA. Barang siapa terjaga (ibadah malam) dimalam Lailatul Qadr dengan rasa iman dan mengharap ampunan, maka diampuni semua dosa yang telah lalu. (HR. Bukhori dan Muslim).


Tanda-tanda Lailatul Qadr
Ada tiga hadits shahih tentang keterangan tanda-tanda lailatul qadr.
1. Diriwayatkan dari Ubay Bin Ka'ab RA. Rosulullah Saw, bersabda, Salah satu tanda malam Lailatul Qadr adalah terbit matahari dipagi harinya tanpa ada pancaran sinar seperti biasanya (agak redup bersahaja). (HR. Muslim)
2. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rosulullah SAW bersabda, Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan sedang,tidak panas dan tidak pula dingin dan pada pagi harinya matahari terbit berwarna merah redup. (Shahih Ibnu Huzaimah dan Musnad at-Toyalisi).
3. Diriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqo' RA. Rosulullah SAW bersabda, Lailatul Qadr adalah malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas, tidak ada bintang beterbangan yang ditugasi memburu syetan pengintai (seperti meteor). (HR. at-Tabrani).
Tidak sayogyanya bagi seseorang yang mendapati suatau malam seperti tanda-tanda lalilatul qadr dan terjaga pada malam itu merasa dirinya telah memperoleh dan mendapatinya, sebab yang menjadi tola ukur adalah dengan bersungguh-sungguh dan ikhlas baik tahu (malam itu adalah malam lailatul Qadr) atau tidak. Yang perlu diingat adalah bahwa sebagian orang yang justru tidak mengetahuinya dan bersungguh-sungguh serta ikhlas itu lebih mulia derajatnya disisi Allah SWT dibanding dengan orang yang mengetahuinya.


Keistimewaan Lailatul Qadr
1. Pada malam itu diturunkannya al-Qur'an (seperti dijelaskan diatas), Ibnu Abbas berkata, Allah SWT menurunkan al-Qur'an dalam satu kali penurunan dari Laoh Mahfudz ke-Bait al-Izzah dari langit bumi, kemudian diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian selama 23 tahun kepada Rosulullah SAW. (Tafsir Ibnu Katsir 4/529)
2. Malam yang lebih baik dari seribu bulan, Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. (al-Qadr/3).
3. Malam yang diberkati, Sesungguhnya kami menurunkannya dimalam yang diberkati. (at-Dukhon/3).
4. Malam itu Malaikat dan Ruh (Jibril) turun kebumi karena terdapat banyak rahmat dan berkah, Malaikat itu turun bersama dengan turunnya berkah dan rahmat seperti ketika ayat al-Qur'an dibaca. Mereka ikut berkumpul dimajlis dzikir dan merebahkan sayapnya hormat kepada pelajar agama.
5. Di malam itu penuh kesejahteraan dan kedaimaian, syetan tidak kuasa berbuat kejahatan atau menyakiti manusia, sebagaimana dikatakan Mujahid "dan pada malam itu, selamat dari adzab dan siksa disebabkan ketaatan seorang hamba kepada sang pencipta".
6. Dijelaskan bahwa malam itu dijelaskan setiap urusan yang bijaksana, pada malam itu dijelaskan setiap urusan yang bijaksana (at-Dukhon/4). Yang dimaksud adalah, Menerangkan dari Laoh Mahfudz kepada malaikat penulis dilangit bumi tentang sunnatullah (ketentuan Allah) seperti ajal, rezeki dan lainnya. Setiap urusan tidak berubah malainkan sudah ditulis dan ditentukan. Hanya saja Urusan-urusan yang akan terjadi itu diperlihatkan kepada Malaikat dan diperintahkan agar mereka mengerjakan aktifitasnya masing-masing. (Syarh Shohih Muslim)
7. Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang beribadah kepada-Nya dengan penuh keimanan dan mengharap ampunan, seperti dalam hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA. Barang siapa puasa dibulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap ampunan Allah SWT, maka, akan diampuni dosanya yang telah lalu, dan barang siapa yang terjaga (ibadah malam) dimalam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan dan mengharap ampunan, maka, akan diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Muttafaqun 'alaih)

Kalimat (Imanan wahtisaban) dalam hadits yang dimaksud adalah percaya dengan semua janji Allah akan semua pahala yang telah dijanjikannya dengan niat ikhlas karena Allah SWT bukan riya' dan lainnya.
8. I'tikaf (berdiam diri didalam masjid) dimalam itu, akan diberikan keutamaan yang lebih dari pada I'tikaf dihari-hari biasa. Nabi Muhammad SAW beri'tikaf sepuluh hari-sepuluh hari pada bulan Ramadhan seperti dalam hadits dari Abi Said bahwa Rosulullah SAW, beri'tikaf pada sepuluh awal dari bulan Ramadhan, lalu sepuluh kedua. Dikabarkan bahwa beliau sedang mencari lailatul qadr, dan diperlihatkan pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadan. Oleh karenanya nabi selalu I'tikaf setiap sepuluh terakhir seperti diriwayatkan Aisyah RA. Rosullah SAW, selalu I'tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan sampai akhir hayatnya. Setelah beliau wafat kemudian diikuti oleh istri-istrinya (HR. Bukhori Muslim).

Disunnahkan agar mencari lailatul qadr pada sepuluh terakhir seperti dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abi Said al-Khudry, bahwa Rosullah SAW, beri'tikaf pada sepuluh awal dan kedua bulan Ramadhan di Kubbah Turkiyah (bangunan yang berbentuk lingkaran), dipintu kubbah itu terdapat tirai, lalu beliau mengambil dan menyingkirkannya kesamping kubbah, lalu melongokkan kepalanya memanggil orang yang berada disekitarnya, mereka pun mendekat. didepan mereka beliau bersabda, sesungguhnya Aku beri'tikaf pada sepuluh awal Ramadhan mencari malam ini (lailatul qadr), dan Aku beri'tikaf sepuluh kedua lalu Aku diberitahu bahwa malam itu (lailatul qadr) berada pada sepuluh terakhir dari bulan ramadhan. Barang siapa ingin beri'tikaf, maka, beri'tikaflah sekarang, kemudian mereka beri'tikaf bersamanya, lalu beliau bersabda, Aku diberitahukan bahwa lailatul qadr jatuh pada malam ganjil, dan Aku bersujud pada pagi harinya diatas tanah yang becek. ternyata malam itu malam yang ke-21 beliau beribadah malam sampai datang waktu shubuh, hujan turun hingga menggenangi masjid. Setelah selesai sholat shubuh beliau keluar masjid, saya (Abu Said al-Khudry) melihat didahi dan ujung hidung Rosulullah ada lumpur bekas sujud, ini terjadi pada malam 21 ramadhan. (HR. Muslim)
Ada riwayat lain yang mengatakan kejadian itu (turunnya hujan) dimalam ke-23 (HR. Muttafaqun 'alaih).
Selain riwayat diatas, ada satu riwayat dari Ibnu Abbas RA. Yang mengatakan bahwa Rosulullah SAW bersabda, bersungguh-sungguhlah dalam mencari lailatul qadr pada sepuluh terakhir ketika ramadhan tinggal 9 hari (malam 21), 7 hari (malam 23) 5 hari (malam 25). (HR. Bukhori).
Berdasarkan hadits-hadits diatas dapat disimpulkan bahwa lailatul qadr kemungkinan besar jatuh pada malam sepuluh terakhir, terutama malam ganjil seperti riwayat Aisyah RA, rosulullah SAW bersabda, bersungguh-sungguhlah dalam mencari lailatul qadr pada sepuluh terakhir dimalam ganjil. Dan riwayat Ibnu Umar RA, menjelaskan bahwa sekelompok orang dari Sahabat Nabi Muhammad SAW. Diberitahu lailatul qadr dalam mimpi pada malam ke-27, maka rosulullah bersabda, Aku melihat mimpi kalian itu benar, lailatul qadr jatuh pada malam ke-27, maka barang siapa bersungguh-sungguh mencari mendapatkannya maka bersungguh-sungguhlah mencarinya dimalam 27. (HR. Bukhori Muslim). Dan masih banyak hadits-hadits lainnya.

Do'a Lailatul Qadr
Dari Aisyah RA. Berkata, Wahai Rasulullah jika aku mendapati lailatul qadr apa yang harus aku baca pada malam itu? Rosulullah lalu menjawab bacalah Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni (Ya Allah sesungguhnya Engkau maha pengampun. Engkau menyukai pengampunan, maka ampunilah aku) (C-Anm)

Andai Al-Qur'an dapat Bicara

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa…
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah…
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…..

Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu

Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat suruhanNya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…
Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…
Di kuburmu nanti….
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali…
Baca dan pelajari lagi aku….
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu….dulu sekali…
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos…
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri….
Dalam bisu dan sepi….
Mahabenar ALLAH, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (c-anm)

Seriuslah dalam Melakukan Segala sesuatu

''Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman, untuk tunduk mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.'' (QS. Al-Hadid : 16).

Ayat ini diturunkan untuk menegur kaum mukminin yang lalai dalam berzikir, yang mencakup segala amal yang bersifat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dakwah membutuhkan orang-orang yang serius dalam memikulnya, bukan yang menjadikannya pekerjaan sambilan. Setiap detik waktu seorang Muslim harus mengandung nilai ibadah kepada-Nya, karena tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah.
Serius dalam beramal bukan berarti harus selalu bertampang seram plus menakutkan. Tapi, keseriusan yang mencakup nilai-nilai ketenangan dan bijak dalam bertindak. Serius bukan berarti dilarang untuk bercanda, karena bercanda sendiri adalah bagian dari hidup Rasul SAW. Beliau pernah mencandai nenek tua tentang keberadaannya di surga. Dengan para sahabat, Rasulullah juga kerap bercanda, tapi sebuah candaan yang tetap tidak terlepas dari esensi kebenaran dan pelajaran tersirat.
Serius, itulah kunci untuk bisa bersaing dengan zaman dan bisa memenuhi kebutuhannya. Selayaknya seorang Muslim untuk terus mengungkung dirinya dalam keseriusan bekerja, beramal, dengan tujuan utama mencapai ridha Allah SWT. Fakta akan selalu bicara bahwa kemunduran umat tidak lepas dari kelalaian mereka dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama. Orang-orang yang memang menginginkan agar Islam berada dalam sudut kemandulan sistem, akan terus berjuang agar umat Islam terus berada dalam tidur yang lelap, berbungakan mimpi-mimpi indah.
Sebagian umat Islam sekarang begitu mudah mengekor falsafah ateis yang jauh dari nilai-nilai Ilahiah. Persis seperti yang digambarkan oleh hadis Rasulullah SAW tentang karakter umat Islam akhir zaman yang mengikuti orang Yahudi dan Nashara sacara buta, sampai masuk lubang biawak pun mereka akan mengikutinya. Sekarang bukan waktunya lagi untuk berhura-hura. Masing-masing harus bersungguh-sungguh dalam bidang yang didalaminya, agar cita-cita tidak hanya berada dalam penjara angan-angan belaka.
Dalam Pepatah Arab dikatakan :
“Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan apa yang diinginkannya,
Dan barang siapa yang bersabar maka untunglah dia,
dan barangsiapa yang berjalan pada jalannya, maka sampailah ia.”
Dikisahkan Pada sebuah cerita kerajaan, ada seorang pemuda yang miskin, pada suatu waktu ia bertemu dengan seorang wanita, ia pun jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis jelita. Tak disangkanya ternyata gadis tersebut adalah anak raja. Tetapi anak muda tersebut nekat untuk mempersunting gadis tersebut.
Maka berangkatlah pemuda tersebut ke istananya gadis tersebut, ketika sampai di depan pintu gerbang ia melihat tulisan “man jadda wa jada”. Saat ia akan masuk, di tanya dia oleh seorang penjaga “ hai anak muda mau bertemu siapa kamu ?” anak muda itu menjawab “aku ingin bertemu sang Putri” ditanya lagi oleh penjaga “ada apa gerangan kamu bertemu dengan anak sang raja” anak muda itu menjawab lagi “sesungguhnya aku ingin mempersunting anak sang raja". Mendengar jawaban pemuda tersebut, prajurit kerajaan itu pun justru mencaci-maki pemuda tersebut dan diusir oleh penjaga tersebut.
Akhirnya pemuda itu pulang ke rumahnya dengan keadaan sedih serta sedikit kecewa, kemudian keesokan harinya pemuda itu datang kembali ke kerajaan tersebut, akan tetapi di depan pintu gerbang ia bertemu dengan penjaga pintu yang kemarin mengusirnya. kemudian ia diperlakukan seperti halnya hari pertama. Ia pun pulang dengan sedih dan kecewa serta putus asa. Tetapi ia teringat oleh tulisan yang ada didepan pintu gerbang tersebut yang berbunyi man jadda wa jada yang artinya “barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan mendapatkannya” .
Akhirnya pada hari ketiga ia bertekad untuk kembali lagi untuk datang ke istana tersebut. Ketika ia mengetuk pintu gerbang, ternyata yang membuka bukanlah para penjaga, melainkan sang raja sendiri. Sang Raja Bertanya, “Ada Apa Kamu Kesini ?” akhirnya ia menceritakan keinginannya tersebut. Saat mendengar Ulasan Pemuda tersebut, sang raja kaget. Sang Raja Berkata, “Anak Muda, jika kau benar-benar ingin menikahi putriku, aku akan memberikan ujian kepadamu !” . Pemuda itu Pun Berkata, “Apapun itu Ujiannya akan ku lakukan demi mendapatkan Putri Bapak ! Apa Ujian Itu Rajaku ?” Raja pun menjawab, “ini adalah sebuah cincin, yang akan ku lemparkan ke Danau. dan Bilamana kamu dapat menemukannya kembali, maka aku bersumpah kamu akan kujadikan menantuku !”
Celakanya, Sang pemuda sangat malang itu ternyata tidak bisa berenang, ia berfikir sejenak akhirnya ia nekat untuk menguras danau tersebut. Hari demi hari, minggu demi minggu, ia terus-menerus menguras air di danau tersebut dengan sebuah timba. Beberapa Minggu kemudian, datanglah seorang nelayan tua. Sang nelayan tersebut bertanya kepada sang pemuda tersebut “hai pemuda apa yang sedang kamu lakukan” pemuda menjawab “saya ingin mencari cincin yang dibuang oleh sang raja, karena apabila aku mendapatkan cincin tersebut aku boleh menikah dengan anaknya tersebut.”. Nelayan berkata, “Sungguh bodoh sekali kau, sampai kapanpun kecuali tanpa izin Allah air di danau itu tak akan pernah habis jika kau mengurasnya !”. Pemuda itu bingung, “Lalu harus bagaimana lagi, sedang aku tidak bisa berenang ! Maukah Engkau menyelam, untuk mencari cincin itu”. “Aku tidak mau, aku hanya mau mengajarimu cara berenang ! jika aku yang menyelam maka itu bukan hasil dari usahamu !” Jawab Nelayan.
Akhirnya sang nelayan mengajari pemuda tersebut, sehingga sampai mahir berenang. Dan akhirnya pemuda tersebut menyelam dan mencari cincin itu sendiri. Akhirnya ditemukannya cincin tersebut, dan dibawanya kepada sang Raja. Sehingga Sang raja menikahkan pemuda tersebut dengan Putrinya tersebut.

Begitulah Apabila kita selalu serius, bersungguh-sungguh, bersabar maka segala sesuatu yang kita harapkan pasti akan terkabulkan. Maka Oleh karena itu, kita sebagai muslim terlebih di Bulan Ramadhan ini, marilah kita melakukan semua ibadah baik wajib maupun sunnah dengan serius, dengan penuh kekhusyukan & kekhidmatan, agar semua amal ibadah kita senantiasa diterima oleh Allah swt. Sehingga semua yang kita kerjakan, tidak sia-sia, senantiasa dicatat oleh para malaikat. Marilah kita berbondong-bondong memperbanyak ibadah dengan serius, karena di bulan ini, semua pahala dilipat gandakan. Semoga kita digolongkan para penghuni surga. (C-Anm)