Selasa, 14 April 2009

Janji Uang Kepada Ahli SEdekah




“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 261)

Begitu turun ayat di atas, para sahabat berbondong-bondong untuk saling memberikan hartanya. Salah satunya, Abdurrahman bin Auf ia berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku mempunyai uang 4.000 dirham, aku sedekahkan setengahnya, dan aku berikan kepada keluargaku setengahnya.
Begitu pula dengan Ali bin Abi tholib, meskipun ia hanya memiliki uang 4 dirham. Ia sedekahkan satu dirham di pagi hari secara sembunyi-bunyi, lalu ia sedekahkan lagi 1 dirham dengan bersembunyi pada siangnya, dan ia pun juga menyedekahkan 1 dirham lagi pada sore harinya. Dan menyedekahkan 1 dirham terakhir secara terang-terangan.
Begitulah ketaatan para sahabat, begitu mendengar firman Allah mereka langsung mengamalkannya, meskipun itu memberatkan bagi dirinya. Meskipun ia tidak memiliki apa-apa, karena demi memperoleh pahala yang djanjikan Allah, serta demi membersihkan harta itu.
Karena Allah berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-taubah : 103)
Maksud dari ayat tersebut zakat itu membersihkan kita dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda sehingga zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati kita dan memperkembangkan harta benda kita. Sehingga dengan kita berzakat, rasa cinta dunia kita akan berkurang, dan justru menambah akhlakul karimah pada diri kita.
Bahkan dalam motif ekonomi saja disebutkan, “mengeluarkan modal yang sedikit demi memperoleh keuntungan yang banyak”. Sehingga, meskipun kita hanya menyedekahkan uang Rp. 1.000 asalkan kita ikhlas kita akan mendapatkan pahala yang tak terkira banyaknya. Maka tak heran, banyak pengusaha barat yang berlatarbelakang Yahudi, dan Kristen. Mereka membuat suatu pundi amal seperti yang kita kenal Bill gates foundation, Ford Foundation. Mereka selalu menyisihkan sisa labanya untuk diserahkan kepada yang membutuhkan. Lalu bagaimana dengan kita, yang berlatar belakang islam, tapi sama sekali tidak pernah mengeluarkan zakat. Orang kafir saja tahu, manfaat dan nikmatnya bersedekah, masa kita ummat islam tidak mau bersedekah.
Selain itu, dalam harta kita terdapat hak-hak yang wajib diberikan kepada orang miskin, seperti dalam firman Allah, “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS. Adz-Dzariyat : 19)
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur” (QS. Al-‘Adiyat : 6-9) kebanyakan manusia selalu ingkar kepada Allah, kadang kita selalu diberikan kenikmatan yang tiada tara, harta yang melimpah, mobil yang mewah. Tetapi kita sama sekali tidak pernah berterima kasih kepada Allah. Hal itu karena rasa cinta kita kepada harta dunia yang semu. Maka dari itu, untuk mengikis sifat Hubbun Duniya kita harus berzakat demi ketentraman kita di dunia dan akhirat.

Rasulullah bersabda, “jika dikeluarkan uang darimu, uang itu akan berkata :
Dahulu Aku Kecil, sedikit, dan tidak ada. Sekarang Aku Besar, banyak, dan ada
Dahulu uang yang kita punya sejumlah Rp. 100.000, namun setelah kita sedekahkan uang itu dipergunakan modal oleh orang yang kita beri, sehingga lama-kelamaan, uang yang hanya Rp. 100.000 akan terus berkembang dan menjadi Rp. 200.000, sehingga terus akan berkembang. Itulah manfaat sedekah, jika kita menyedekahkan uang kita uang yang mulanya kecil, akan bertambah menjadi besar. Begitu pula uang yang hanya sedikit, akan bertambah menjadi banyak. Dan tak lupa , uang yang semulanya tidak ada menjadi ada. Itulah hikmah dari bersedekah.
Dahulu Kau Menjagaku, Sekarang Ku Akan Menjagamu
Uang yang selalu kita jaga, yang selalu kita simpan di dalam saku, bahkan disimpan lagi didalam dompet, bahkan karena demi menjaga uang tersebut uang itu kita masukkan ke dalam tas, dalam tas itu kita digembok lalu kita masukkan ke lemari dan dikunci rapat-rapat. Begitulah usaha kita dalam menjaga uang tersebut. Tapi apabila uang itu kita sedekahkan, uang itu akan berbalik menjaga kita dari bahaya baik di dunia maupun di akhirat.
Ketahuilah, jika kita memberi uang kepada orang yang membutuhkan, Orang itu akan menjadi kawan kita. Sebaliknya, jika kita pelit enggan untuk mengeluarkan uang kita, maka akan banyak orang yang akan memusuhi kita. Seperti kita lihat, banyak terjadi perampokan, Karena pemilik rumah pelit, sehingga banyak yang memusuhinya. Bahkan yang lebih terbaru, ada pembantu yang tega merampok uang majikannya. Maka sedekahkan uang kita, agar kita dijaga oleh uang tersebut.
Dahulu Aku Memusuhimu, Sekarang Aku Mencintaimu
uang selalu menyusahkan kita, Karena kadang kita sudah berusah sekuat tenaga membanting tulang demi mengais rezeki. Sehingga seakan-akan uang itu menjauhi kita, memusuhi kita, tak mau menyentuh kita. Hal itu karena apabila kita mempunyai uang, kita tidak pernah menyedekahkannya. Uang itu akan memusuhi kita. Namun, apabila kita sering bersedekah uang itu akan mencintai kita. Bahkan akan lengket seperti perangko. Sehingga maka dari itu bersedekahlah, agar uang mencintai kita.
Ada sebuah kisah dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: "Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepal kawannya. Ia lalu bertanya, 'Ada apa?' Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, “Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?” Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, “Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar !” Maka sang isteri segera mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut
Wanita itu pun berkata gembira, “Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara.”
Suaminya berkata, “Perlihatkanlah kepadaku !” Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada isterinya, “Tahukah engkau berapa nilai meutiara ini?”, “Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini”, jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. 'Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, 'Aku menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku'.
Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, 'Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku'.
Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, 'Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah sedikit pun dari harga itu!' 'Ya', ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, 'Saya punya kisah, karena itu masuklah'. Orang itu pun masuk. Ia berkata, 'Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata, 'Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta'ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.”

Itulah hikmah dari bersedekah, orang di atas hanya gara-gara merelakan uang satu dirham, di kala kondisinya yang memprihatinkan. Akhirnya ia mendapat ratusan, bahkan ribuan kali lipat dari itu. Maka dari itu, bersedekahlah karena lebih baik tangan di atas, daripada tangan dibawah. Namun, bagi kita yang tidak memiliki uang, berusahalah karena nabi tidak menyukai orang yang tak mau berusaha, Rasulullah bersabda “Mencari kayu bakar seberkas lalu dipikul di atas punggungnya terus dijual itu lebih baik bagi seseorang dari pada mengemis kepada orang lain yang kadang-kadang diberinya atau tidak”. Berusahalah untuk menjadi pemberi, naikkan tangan kita untuk berada di atas. Bersedekahlah, karena uang itu akan mendo’akan kita. Mulai dari sekarang, sisihkan uang kita untuk disedekahkan kepada orang yang membutuhkan. (imq)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar