”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ........
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat
(yang dipikulnya) dan janjinya," (QS. AL-Mukminuun : 1 , 8)
inilah salah satu tanda iman yaitu orang yang selalu memelihara amanat, dan selalu menepati janjinya. Karena orang yang selalu Menjaga Amanat, dan menepati janji, tidak tergolong pada golongan Orang Munafik. Seperti sabda rasulullah : ”Tanda-tanda Orang Munafik, ada tiga : Apabila Berkata Bohong, Apabila berjanji tidak ditepati, apabila dipercaya selalu berkhianat.”
KENAPA KITA HARUS SELALU MEMELIHARA AMANAT ?
karena Amanat adalah suatu Kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk diamalkan sebaik mungkin. Suatu kepercayaan itu dipilih karena barangkali kita yang paling mampu untuk melaksanakan kepercayaan itu. Seperti terpilihnya sebagai kita sebagai Kepala Negara, bukan berarti kita terpilih kita bebas melakukan apa yang kita inginkan, kepercayaan dan amanah yang diberikan pada kita harus kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, apa yang diinginkan oleh Rakyatnya harus terpenuhi, selalu mendengar apa yang diharapkan masyarakat dan melihat kondisi rakyat-rakyatnya. Bahkan pada Era Kekhalifahan Khulafaur Rasyidin, beliau berpesan kepada Kepala wilayahnya, jangan sampai Ayam di Negara kita terjatuh gara-gara jalanan kita yang rusak. Bahkan para Khulafaur Rosyidin rela keliling seluruh Negeri pada Malam hari secara gerilya, untuk melihat dengan mata kepala sendiri kondisi rakyatnya.
Begitu besar rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh para Khulafaur Rasyidin, mereka selalu memikirkan kondisi rakyatnya bahkan sampai lupa memikirkan dirinya sendiri, saat melihat kondisi rakyatnya yang merana. Mereka selalu berusaha semaksimal mungkin, bekerja keras demi semua rakyatnya sejahtera, dan mempunyai lapangan Pekerjaan.
Sejenak kita bandingkan dengan Kepemimpinan di Negara kita, masih banyak jalanan yang rusak yang menghambat semua kegiatan masyarakat kita, masih banyak anak bangsa ini yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menikmati indahnya pendidikan, masih banyak masyarakat kita yang tidak mampu berobat karena tidak memiliki biaya, masih ada jutaan Sarjana dan Orang yang tidak memiliki pekerjaan, namun, melihat kekurangan Kinerja Pemerintah kita juga jangan selalu merendahkan Pemerintah seperti Firman Allah : ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul (nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),” (QS. An-Nisaa’ : 59).
Ulul Amri atau yang biasa disebut Pemerintah, wajib kita taati semua kebijakannya. Tapi jika kebijakan itu bertentangan dengan kepentingan Rakyat, maka kembalikan kepada AL-Qur’an dan Sunnah RASUl. Dan terus kita do’akan agar pemerintah kita mendapatkan hidayah, sehingga mampu bekerja dengan baik, bersih dari korupsi, dan selalu memihak Rakyat dalam memutuskan semua kebijkannya. Ketahuilah semua Kebijakan pemerintah kita akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, semua keadaan rakyat di masa kepemimpinannya akan dipertanyakan di akhirat. Jadi kita serahkan semua kepada Allah, karena semua ini sudah menjadi Taqdir Allah di yaumul Mahfudz dulu. Kita serahkan kepada Allah, sebaik dan seburuk apapun kinerja Pemimpin kita, itu adalah pemimpin kita yang telah kita pilih saat Pemilu dulu, jika memang ada Kinerja-Kinerjanya dalam 100 hari Pemerintahannya ada yang kurang berkenan di Hati kita, kita seharusnya berpikir kenapa dahulu memilih mereka. Itu adalah pilihan kita yang harus kita terima, dan jalani. Dan jika kecewa dengan Kinerjanya pada Pemilu kelak, pilihlah pemimpin yang terbaik, yang mampu membela rakyat.
FAKTOR PENYEBAB RUSAKNYA PARA PEMIMPIN : Lemahnya pengamalan prinsip agama, Senang mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunia belaka, Sikap kolusi dan nepotisme yang berlebihan, Teman dan penasihat kepercayaan yang tidak baik atau menjadikan orang-orang kafir sebagai pembantu kepercayaan, Menyerahkan kekuasaan dan jabatan kepada orang-orang yang tidak berjiwa patriot dan ihklas, Diktator dalam mengendalikan kekuasaan, Tekanan internasional terhadap para pemimpin, Terpengaruh dengan sistim negara-negara kafir dan meninggalkan sistim Islam.
Rasulullah saw. bersabda : "Barangsiapa yang mendapatkan dari pemimpin sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah bersabar, sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari pemimpin, maka meninggal dalam keadaan jahiliyah (BODOH)". (HR. Al-Bukhari) Abdullah Ibnu Abbas berkata: "Pemimpin adalah ujian bagi kalian, apabila mereka bersikap adil, maka dia mendapat pahala dan kamu harus bersyukur dan apabila dia zhalim, maka dia mendapatkan siksa dan kamu harus bersabar." Imam Nawawi berkata: "Barangsiapa yang mendiamkan kemungkaran seorang pemimpin tidak berdosa kecuali dia menunjukkan sikap rela, setuju atau mengikuti kemungkaran tersebut."
Orang yang selalu memelihara amanat, indikasinya selalu memiliki rasa tanggung jawab, karena ketahuilah semua amanat yang diberikan kepada kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, amanat tidak hanya berupa Terpilihnya kita menjadi Pemimpin, seorang anak juga merupakan amanat yang akan dpertanggungjawabkan kelak, sudahkah anak tersebut bisa membaca Al-Qur’an, sudahkah anak anda beribadah kepada Allah ? Hal Haram apakah yang pernah dilakukan oleh kita ? bagaimana dan Apa saja yang dilakukan oleh Anak kita akan kita pertanggungjawabkan kelak, jadi DIDIKLAH anak kita sebaik mungkin, karena itu adalah Amanat yang diberikan kepada kita.
KENAPA KITA HARUS MENEPATI JANJI ?
Karena Janji adalah hutang, dan Hutang harus Dibayar, dan jika sampai matipun belum dibayar, Hutang tersebut wajib dibayar oleh keluarga.
Janji adalah suatu kesepakatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk melakukan sesuatu, seperti saat kita janjian akan bertemu teman kita di suatu tempat, jika teman kita tersebut tidak datang, padahal kita sudah menunggu berjam-jam. Bagaimana perasaan kita ? jengkel tentunya ! begitu pula dengan Janji Pemimpin kita kepada Rakyat yang hingga saat ini masih banyak yang belum ditepati, bagaimana perasaan Rakyat ? Jengkel dan Marah tentunya, sehingga membuat DEMO Besar-besaran pada Hari Kamis 28 Januari 2010 Kemarin. Itu adalah ekspresi kemarahan rakyat terhadap janji-janji pemerintah yang masih belum ditepati.
Maka, mulai sekarang jadilah orang yang selalu menepati janji, dan jangan suka mengumbar suatu janji yang belum tentu bisa kita lakukan. Maka islam menganjurkan untuk mengucapkan ” Insya Allah ” saat akan melakukan sesuatu. Karena Allah tahu, kemampuan Manusia ada batasnya, tidak ada yang mampu mengetahui takdirnya , satu jam yang akan datang, sehingga apabila kita berjanji ucapkan Insya Allah, mengapa karena selain berdo’a kepada Allah agar mampu menepati janji itu, janji itu tidak terikat dan apabila kita benar lupa atas izin Allah janji itu gugur. Jadi, sekarang kita renungkan janji-janji apa yang belum kita lakukan, baik itu janji kepada kita sendiri , janji kepada Makhluk, Janji kepada Allah.
Allah Berfirman : ”(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Imron : 76). Orang yang selalu menepati Janji indikasinya adalah JUJUR, ia selalu mengamalkan apa yang berani dia ucapkan, atau ia janjikan. Ia tidak membohongi janji-janjinya, Rasulullah bersabda : ”Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua (Pahala semua Amal Ibadah) itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Sahabat berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkel wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka”. (HR. Turmudzi) jadi, jaga mulut kita dari Janji-janji yang memberatkan diri kita.
Marilah kita menjadi seorang yang selalu memelihara Amanat, dan Menepati Janji, agar kita tergolong menjadi orang yang beriman. Orang yang selalu mengamalkan Kepercayaan yang diberikan kepadanya, orang yang yang tidak mau menodai amanat yang diberkan kepadanya, orang yang selalu sama antara lisan, hati, dan perbuatan. Orang yang selalu Jujur kepada dirinya sendiri, jujur kepada Makhluk, dan juga juga jujur Kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita digolongkan menjadi golongan orang yang selalu memelihara Amanat dan Menepati Janji. (imq)
Senin, 08 Februari 2010
Senin, 25 Januari 2010
Jagalah Malu - MU !
OLEH : IN’AMUL MUTTAQIEN
”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ............
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS. Al-Mukminuun : 1 , 5-6)
Orang yang menjaga Kemaluannya adalah orang yang memiliki Rasa MALU, karena pada Jaman sekarang banyak orang yang tidak mempunyai rasa Malu, sering menampakkan Kemaluannya. seorang yang mempunyai Sifat Malu, akan berfikir dahulu sebelum bertindak, mereka akan selalu memikirkan Akibat dan manfaat atas apa yang akan dilakukannya, apa yang terjadi jika kita melakukan ini, bermanfaatkah atau justru memalukan dirinya. Sifat malu bisa mencegah seseorang dari berlaku buruk dan maksiat kepada Allah, karena mereka selalu berfikir ke depan dalam melakukan segala sesuatu. Oleh karena itu Nabi menggolongkan sifat malu seperti ini sebagai bagian dari keimanan dalam sabdanya, "Malu adalah bagian dari iman." (HR. Muslim - Makarimul Akhlaq hal. 73).
Kembali tentang Menjaga Kemaluan, Allah Berfirman :
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. An-Nuur : 30)
Ini adalah peringatan bagi para lelaki , bahwa selain menjaga dan memelihara kemaluan kita sendiri, memelihara dari perbuatan yang hina, menjaga dari Berzina. Kita juga diwajibkan untuk menahan pandangan kita terhadap sesuatu yang tidak patut dilihat, sehingga kita tergolong menjadi orang yang suci. SUCI di Dunia dan Akhirat.
Sedang Bagi wanita, Allah juga berfirman dalam Lanjutan Ayat di atas :
“ Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. " (An-Nur : 31)
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah : “Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka” (Riwayat Bukhori)
Malu merupakan tema yang telah disepakati oleh para nabi dan tidak terhapus ajarannya. Malu merupakan landasan akhlak mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan. Jika seseorang telah meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun. Siapa yang banyak malunya lebih banyak kebaikannya, dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit kebaikannya. Diantara manfaat rasa malu adalah ‘Iffah (menjaga diri dari perbuatan tercela) dan Wafa’ (menepati janji). Rasa malu merupakan cabang iman yang wajib diwujudkan.
Rasa malu merupakan perilaku yang dapat dibentuk. Karena tingkatan Malu masing-masing Insan Manusia itu berbeda-beda, contoh saja dalam hal berpakaian, Seorang Muslimah pasti akan menutupi semua Auratnya, sedang orang yang tidak mempunyai Malu justru membuka semua auratnya, memakai pakaian yang menutupi aurat, ketat yang menampakkan bagian tubuhnya, mengumbar aurat ke semua orang. Orang yang malu akan selalu IFFA’ atau menjaga diri dari perbuatan tercela, sehingga orang yang memiliki rasa Malu tidak mau untuk berbohong, Memfitnah, Mencuri, berzina, dan sejenisnya. Orang yang malu juga selalu WAFA’ atau selalu menepati Janji, karena mereka akan malu jika sampai tidak menepati janji mereka.
Orang yang Memiliki rasa malu, cenderung selalu berfikir apa yang akan dikerjakannya, memikirkan apa yang akan dikatakan orang padanya jika ia melakukan ini, dikatakan baikkah ? atau justru sebaliknya ? marilah kita menjadi manusia yang terbaik, yang selalu dikatakan / dicap baik oleh semua orang, karena jika kita selalu menjunjung tinggi rasa Malu, apa yang kita lakukan selalu berujung pada kebaikan. Andai semua orang mempunyai Rasa Malu, tentunya semua orang akan berbuat baik semua, tidak ada seorang yang akan berbuat tercela, tidak akan ada orang yang akan menghuni Penjara, semua Penjahatdi dunia ini akan Tobat.
Lain halnya dengan orang yang tidak mempunyai rasa Malu, mereka tidak tahu menahu apa yang dilakukannya, mereka berfikir “ Masa Bodoh “ atas sesuatu yang dilakukannya, sehingga mereka identik akan melakukan sesuatu yang tidak jelas, bahkan cendurung menuju keburukan, mereka tidak akan segan-segan untuk mencuri, merampok, membunuh, berzina. Mereka akan melakukan apa yang mereka suka, tidak peduli apa kata orang tentang perbuatannya. Mereka akan terus berbuat keburukan, selama tidak ada rasa Malu dalam hatinya. Oleh sebab itu, orang yang menghuni di Balik Jeruji (penjara) adalah golongan orang yang tidak Malu akan perbuatannya, orang yang tidak Malu dilihat orang bahwa dia berada di Penjara.
Nabi adam saja saaat melakukan suatu kesalahan saja, yaitu saat memakan buah Khuldi, beliau dikeluarkan dari surga, beliau tak henti-hentinya menangis selama 300 tahun. Beliau juga tidak mengangkat kepalanya ke langit kerana terlampau malu kepada Allah swt. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip. Begitulah Rasa Malunya terhadap Allah swt. Lain halnya dengan kita, yang telah berulang kali melakukan kesalahan, terus menerus berbuat dosa, tapi kita tidak henti-hentinya melakukan perbuatan yang tercela tersebut, karena kita tidak mempunyai rasa Malu terhadap Allah.
Marilah kita Malu untuk melakukan KEBURUKAN. Tapi jangan sekali-kali kita Malu untuk berbuat KEBAIKAN. Karena Tidak ada rasa malu dalam mengajarkan hukum-hukum agama serta menuntut ilmu dan kebenaran . Allah ta’ala berfirman : “ Dan Allah tidak malu dari kebenaran “ (QS. Al-Ahzab : 53). Jadi, jangan sampai kita malu untuk berbuat sesuatu yang terpuji, jangan Malu untuk belajar Mengaji, untuk belajar agama. Karena, kita harus terus menerus melakukan sesuatu yang terbaik. Buang 100 % malu kita untuk melakukan kebaikan, dan tambahkan 100 % lagi pada rasa Malu kita untuk melakukan keburukan. Agar kita meninggalkan sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang dilarang Oleh ALLAH swt. Dan terus meneruskan melakukan yang baik, atau yang diwajibkan serta diperintahkan oleh Allah.
Marilah menjadi generasi yang selalu menjaga kemaluan, Malu untuk melakukan yang buruk, Malu terhadap Allah, Malu terhadap Makhluk. Karena ketika ditanya Rasulullah tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab, "Mulut dan kemaluan" (HR. Tirmidzi) oleh karena itu jagalah kemaluan kita, tidak ditampakkan kepada semua orang, tidak dipergunakan untuk berzina, serta jagalah lisan kita, serta jaga pula amal perbuatan kita, ucapkkan perkataan yang baik-baik, hindarkan dari perkataan yang buruk perkataan yang menjelek-jelekan orang lain (meng-Ghibah), MARI melakukan Amal Sholeh dan Nahi Munkar. Marilah Malu dan takut untuk melakukan sesuatu yang Buruk, dan janganlah Malu dan Takut untuk Melakukan sesuatu yang baik. (imq)
”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ............
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS. Al-Mukminuun : 1 , 5-6)
Orang yang menjaga Kemaluannya adalah orang yang memiliki Rasa MALU, karena pada Jaman sekarang banyak orang yang tidak mempunyai rasa Malu, sering menampakkan Kemaluannya. seorang yang mempunyai Sifat Malu, akan berfikir dahulu sebelum bertindak, mereka akan selalu memikirkan Akibat dan manfaat atas apa yang akan dilakukannya, apa yang terjadi jika kita melakukan ini, bermanfaatkah atau justru memalukan dirinya. Sifat malu bisa mencegah seseorang dari berlaku buruk dan maksiat kepada Allah, karena mereka selalu berfikir ke depan dalam melakukan segala sesuatu. Oleh karena itu Nabi menggolongkan sifat malu seperti ini sebagai bagian dari keimanan dalam sabdanya, "Malu adalah bagian dari iman." (HR. Muslim - Makarimul Akhlaq hal. 73).
Kembali tentang Menjaga Kemaluan, Allah Berfirman :
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. An-Nuur : 30)
Ini adalah peringatan bagi para lelaki , bahwa selain menjaga dan memelihara kemaluan kita sendiri, memelihara dari perbuatan yang hina, menjaga dari Berzina. Kita juga diwajibkan untuk menahan pandangan kita terhadap sesuatu yang tidak patut dilihat, sehingga kita tergolong menjadi orang yang suci. SUCI di Dunia dan Akhirat.
Sedang Bagi wanita, Allah juga berfirman dalam Lanjutan Ayat di atas :
“ Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. " (An-Nur : 31)
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah : “Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka” (Riwayat Bukhori)
Malu merupakan tema yang telah disepakati oleh para nabi dan tidak terhapus ajarannya. Malu merupakan landasan akhlak mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan. Jika seseorang telah meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun. Siapa yang banyak malunya lebih banyak kebaikannya, dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit kebaikannya. Diantara manfaat rasa malu adalah ‘Iffah (menjaga diri dari perbuatan tercela) dan Wafa’ (menepati janji). Rasa malu merupakan cabang iman yang wajib diwujudkan.
Rasa malu merupakan perilaku yang dapat dibentuk. Karena tingkatan Malu masing-masing Insan Manusia itu berbeda-beda, contoh saja dalam hal berpakaian, Seorang Muslimah pasti akan menutupi semua Auratnya, sedang orang yang tidak mempunyai Malu justru membuka semua auratnya, memakai pakaian yang menutupi aurat, ketat yang menampakkan bagian tubuhnya, mengumbar aurat ke semua orang. Orang yang malu akan selalu IFFA’ atau menjaga diri dari perbuatan tercela, sehingga orang yang memiliki rasa Malu tidak mau untuk berbohong, Memfitnah, Mencuri, berzina, dan sejenisnya. Orang yang malu juga selalu WAFA’ atau selalu menepati Janji, karena mereka akan malu jika sampai tidak menepati janji mereka.
Orang yang Memiliki rasa malu, cenderung selalu berfikir apa yang akan dikerjakannya, memikirkan apa yang akan dikatakan orang padanya jika ia melakukan ini, dikatakan baikkah ? atau justru sebaliknya ? marilah kita menjadi manusia yang terbaik, yang selalu dikatakan / dicap baik oleh semua orang, karena jika kita selalu menjunjung tinggi rasa Malu, apa yang kita lakukan selalu berujung pada kebaikan. Andai semua orang mempunyai Rasa Malu, tentunya semua orang akan berbuat baik semua, tidak ada seorang yang akan berbuat tercela, tidak akan ada orang yang akan menghuni Penjara, semua Penjahatdi dunia ini akan Tobat.
Lain halnya dengan orang yang tidak mempunyai rasa Malu, mereka tidak tahu menahu apa yang dilakukannya, mereka berfikir “ Masa Bodoh “ atas sesuatu yang dilakukannya, sehingga mereka identik akan melakukan sesuatu yang tidak jelas, bahkan cendurung menuju keburukan, mereka tidak akan segan-segan untuk mencuri, merampok, membunuh, berzina. Mereka akan melakukan apa yang mereka suka, tidak peduli apa kata orang tentang perbuatannya. Mereka akan terus berbuat keburukan, selama tidak ada rasa Malu dalam hatinya. Oleh sebab itu, orang yang menghuni di Balik Jeruji (penjara) adalah golongan orang yang tidak Malu akan perbuatannya, orang yang tidak Malu dilihat orang bahwa dia berada di Penjara.
Nabi adam saja saaat melakukan suatu kesalahan saja, yaitu saat memakan buah Khuldi, beliau dikeluarkan dari surga, beliau tak henti-hentinya menangis selama 300 tahun. Beliau juga tidak mengangkat kepalanya ke langit kerana terlampau malu kepada Allah swt. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip. Begitulah Rasa Malunya terhadap Allah swt. Lain halnya dengan kita, yang telah berulang kali melakukan kesalahan, terus menerus berbuat dosa, tapi kita tidak henti-hentinya melakukan perbuatan yang tercela tersebut, karena kita tidak mempunyai rasa Malu terhadap Allah.
Marilah kita Malu untuk melakukan KEBURUKAN. Tapi jangan sekali-kali kita Malu untuk berbuat KEBAIKAN. Karena Tidak ada rasa malu dalam mengajarkan hukum-hukum agama serta menuntut ilmu dan kebenaran . Allah ta’ala berfirman : “ Dan Allah tidak malu dari kebenaran “ (QS. Al-Ahzab : 53). Jadi, jangan sampai kita malu untuk berbuat sesuatu yang terpuji, jangan Malu untuk belajar Mengaji, untuk belajar agama. Karena, kita harus terus menerus melakukan sesuatu yang terbaik. Buang 100 % malu kita untuk melakukan kebaikan, dan tambahkan 100 % lagi pada rasa Malu kita untuk melakukan keburukan. Agar kita meninggalkan sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang dilarang Oleh ALLAH swt. Dan terus meneruskan melakukan yang baik, atau yang diwajibkan serta diperintahkan oleh Allah.
Marilah menjadi generasi yang selalu menjaga kemaluan, Malu untuk melakukan yang buruk, Malu terhadap Allah, Malu terhadap Makhluk. Karena ketika ditanya Rasulullah tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab, "Mulut dan kemaluan" (HR. Tirmidzi) oleh karena itu jagalah kemaluan kita, tidak ditampakkan kepada semua orang, tidak dipergunakan untuk berzina, serta jagalah lisan kita, serta jaga pula amal perbuatan kita, ucapkkan perkataan yang baik-baik, hindarkan dari perkataan yang buruk perkataan yang menjelek-jelekan orang lain (meng-Ghibah), MARI melakukan Amal Sholeh dan Nahi Munkar. Marilah Malu dan takut untuk melakukan sesuatu yang Buruk, dan janganlah Malu dan Takut untuk Melakukan sesuatu yang baik. (imq)
Menjadi Manusia Terbaik
MENJADI MANUSIA TERBAIK !
OLEH : IN’AMUL MUTTAQEN
”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) ……… dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (QS. Al-Mukminun : 1-3)
inilah tanda iman ke-4, yaitu kemampuan menjauhkan diri dari perbuatan dan perkatan yang tidak berguna, dan juga melakukan perbuatan dan perkataan yang bermanfaat. Dalam hadist disebutkan : “Kwalitas keislaman seseorang tergantung kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi). Adapula hadist yang menyebutkan "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang bermanfaat bagi Manusia" (H.R. Bukhari).
Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai Allah kepekaan untuk mengamalkan aneka pernik peluang kebaikan yang diperlihatkan Allah kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi Allah aneka potensi kelebihan oleh-Nya, dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya umat manusia.
Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Seperti hadist yang sudah disebutkan di atas, semakin banyak nilai manfaat yang kita berikan kepada orang lain, maka semakin tinggi pula derajat kita hingga kita menjadi manusia yang terbaik di mata manusia sendiri serta di mata Allah swt. Sekarang kembali kepada diri kita ! pernahkah dalam keseharian kita, ada orang yang memanggil kita ? tentunya pernah karena semakin banyak orang yang memanggil kita, tentunya itu pertanda bahwa mereka sangat membutuhkan kita. Lalu, pernahkah ada orang yang meminta bantuan kepada kita ? mungkin jarang bagi kita, dimintai bantuan oleh orang lain karena dimintai bantuan merupakan suatu gambaran bahwa kita lebih mampu dari mereka. Lalu yang terakhir, adakah orang yang mengucapkan terima kasih kepada kita ? terima kasih merupakan suatu apresiasi orang lain dalam menghormati kita, karena kita telah memberikan suatu manfaat bagi mereka.
Ketiga hal diatas hanyalah suatu gambaran tentang arti dari manfaat itu sendiri. Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Kaum manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi mereka, Dan amalan yang paling dicintai Allah ‘azza wajalla adalah amalan yang mendatangkan kebahagian bagi seorang muslim, atau yang dapat menepis kesedihannya, atau dapat melepaskannya dari jerat hutang, ataukah menghilangkan rasa laparnya. Dan saya berjalan bersama saudaraku seorang muslim dalam untuk memenuhi kebutuhannya lebih saya cintai dari pada melakukan I’tikaf selama sebulan. Dan barang siapa yang menahan amarahnya niscaya Allah akan menutupi auratnya. Dan barang siapa yang menahan lagi mengendalikan hawa amarah dan jika dia berkehendak untuk melepaskannya dia dapat melepaskannya, niscaya Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang berjalan bersama saudaranya seorang muslim untuk memenuhi kebutuhannya hingga saudaranya itu mendapatkan kebutuhannya, Allah ta’ala akan menetapkan pijakan kakinya pada hari dimana kaki-kaki manusia pada berguncang. Dan sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal, sebagaimana cuka akan merusak madu “ (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 176).
Banyak cara bagi kita untuk memberikan manfaat bagi semua orang, yaitu :
BERMANFAAT DENGAN MEMBERIKAN HARTA
Terkadang di saat kita memiliki sejumlah rezeki, kita kadangkala berfoya-foya, menghabiskan uang kita untuk bersenang-senang. Padahal, banyak saudara kita yang kebingungan mencari kerja, kesulitan mendapatkan uang, sehingga harus tinggal di sebuah kontrakan yang kumuh, mereka tidak bisa membeli apa-apa, kadang anak-anak mereka merengek-rengek meminta sesuatu, tapi mereka tak kuasa untuk mendapatkannya karena terhimpit masalah ekonomi.
Salah satu cara bagi kita untuk membantu orang lain adalah dengan menyisihkan harta kita untuk diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Seperti memberikan shodaqoh di masjid, yayasan, dan memberi santunan kepada anak yatim, para dhuafa, lansia. Bahkan yang lebih berkesan adalah apabila kita mampu memberikan modal usaha kepada wirausahawan yang tidak memiliki modal. Karena selain memberi, kita juga mampu meningkatkan taraf kehidupan orang lain, yang mulanya tidak memiliki apa-apa.
BERMANFAAT DENGAN MEMBERIKAN MAKANAN
Kadangkala di saat kita lapar ada saja yang kita beli, kadang membeli nasi pecel, bakso, mie ayam, dan segala jenis makanan yang ada di rumah makan. Padahal, di meja makan kita ada sederet masakan ibu kita, bibi kita yang sekiranya masih dapat kita makan. Namun, karena kita mengikuti hawa nafsu perut, kita justru lebih memilih membeli makan di luar daripada menikmati masakan ibu kita yang dimasak dengan penuh kasih sayang hanya untuk kita. Padahal Jika kita perhatikan di seberang sana, banyak saudara-saudara kita yang mengais-ngais tempat sampah rumah makan, demi mendapatkan sesuap nasi untuk mengganjal perut, yang tidak memenuhi standar kebersihan dan gizi. Mereka sangat kesulitan mendapatkan sebutir nasi, sampai-sampai menyisir beras di halaman gudang beras yang kadang kala bercampur dengan tanah. Namun, mereka tetap saja tegar meski hanya bisa makan dengan nasi dan garam saja.
Membaca fenomena di atas, tentunya kita patut merenungi kesusahan saudara-saudara kita yang terhimpit kemiskinan. Sehingga apabila ada makanan yang masih layak dan tidak kita makan, sebaiknya kita berikan semua itu kepada orang yang lebih membutuhkan, niscaya do’a mereka akan mengiringi kita.
BERMANFAAT DENGAN MENULARKAN ILMU
“Iika mati anak adam maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga hal, yaitu : pertama shodaqoh jariyah, kedua anak yang sholihah, ketiga ilmu yang bermanfaat” di jaman globalisasi ini kita dituntut untuk mempunyai ilmu yang tinggi agar kita tidak tergeser dan terdepak dalam arus kompetisi ini. Bagi kita yang orang tuanya mampu mungkin masih dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Tapi seperti yang kita lihat di sekitar kita,banyak teman-teman seangkatan kita yang putus sekolah karena terhimpit biaya sekolah yang mahal. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menularkan ilmu yang kita miliki kepada teman-teman, serta saudara-saudara kita yang putus sekolah. Selain ilmu umum, kita juga wajib memberikan ilmu agama, agar mereka tahu bagaimana cara ibadah, bagaimana cara melakukan hubungan dengan sang illahi.
Seperti hadist di atas, apabila kita mati nanti semua ilmu yang kita tularkan kepada orang lain itu akan terus mengiringi kita. Apabila ilmu itu dipergunakan, dimanfaatkan, ditularkan lagi kepada orang lain. Sehingga pahala kita akan terus mengalir, meski ajal sudah mengintai kita.
BERMANFAAT DENGAN TENAGA
Inilah cara alternatif yang mampu dilakukan oleh semua orang, jika kita belum mampu memberikan suatu manfaat dengan harta, makanan, dan ilmu yang bermanfaat, kita mampu membantu dengan fisik kita, dengan tenaga kita, dengan keringat kita. Jika kita melihat orang lain kesusahan dalam melakukan sesuatu, kita bisa menolongnya dengan membantu mengangkatkan, membantu membawa.
Dalam hidup kita harus mempunyai prinsip, “Jangan sampai orang lain berkeringat karena kita, dan biarlah kita berkeringat demi orang lain” maksud dari filosofi tadi adalah kita harus senantiasa membantu orang lain. Relakan tetes demi tetes keringat kita untuk membantu mereka.
Ingatlah !, perbedaan orang yang bermanfaat dengan orang yang tidak bermanfaat itu bagaikan Jiwa Hidup dan Mati, jadi berikanlah manfaat kepada Orang lain agar kita tergolong menjadi manusia yang terbaik, dan jika anda tetap tidak mau untuk bermanfaat, ada ucapan sebuah media islami, ”JANGAN HIDUP, JIKA TIDAK BERMANFAAT”. Pernyataan itu memang sangat benar adanya, karena untuk apa kita hidup jika kita tidak memberikan manfaat kepada Orang Lain. Lalu apa yang kita lakukan di dunia ini jika tidak mampu bermanfaat bagi orang lain.
Dari penggalan tulisan di atas, marilah kita beranjak dari kemalasan kita, jangan mau untuk menjadi manusia yang terburuk, lepaskan segala penat kita untuk membantu orang lain. Marilah kita menjadi orang yang terbaik, dengan senantiasa membantu sesama manusia, senantiasa menolong mereka. Banyak cara untuk memberikan manfaat kepada orang lain, tergantung dari kita sendiri bagaimana cara kita mengaplikasikan arti manfaat itu sendiri. Mari membantu orang lain, agar ucapan terima kasih mereka senantiasa mengiringi kita, menjadi pahala buat kita, yang mampu menghantarkan kita menuju surganya Allah, tempat berkumpulnya para anbiya’ dan mursalin, tempat singgahnya para alim, ulama, serta para wali. Mari berbuat manfaat kepada semua orang agar kita menjadi manusia yang bermanfaat. (imq)
OLEH : IN’AMUL MUTTAQEN
”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) ……… dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (QS. Al-Mukminun : 1-3)
inilah tanda iman ke-4, yaitu kemampuan menjauhkan diri dari perbuatan dan perkatan yang tidak berguna, dan juga melakukan perbuatan dan perkataan yang bermanfaat. Dalam hadist disebutkan : “Kwalitas keislaman seseorang tergantung kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi). Adapula hadist yang menyebutkan "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang bermanfaat bagi Manusia" (H.R. Bukhari).
Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai Allah kepekaan untuk mengamalkan aneka pernik peluang kebaikan yang diperlihatkan Allah kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi Allah aneka potensi kelebihan oleh-Nya, dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya umat manusia.
Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Seperti hadist yang sudah disebutkan di atas, semakin banyak nilai manfaat yang kita berikan kepada orang lain, maka semakin tinggi pula derajat kita hingga kita menjadi manusia yang terbaik di mata manusia sendiri serta di mata Allah swt. Sekarang kembali kepada diri kita ! pernahkah dalam keseharian kita, ada orang yang memanggil kita ? tentunya pernah karena semakin banyak orang yang memanggil kita, tentunya itu pertanda bahwa mereka sangat membutuhkan kita. Lalu, pernahkah ada orang yang meminta bantuan kepada kita ? mungkin jarang bagi kita, dimintai bantuan oleh orang lain karena dimintai bantuan merupakan suatu gambaran bahwa kita lebih mampu dari mereka. Lalu yang terakhir, adakah orang yang mengucapkan terima kasih kepada kita ? terima kasih merupakan suatu apresiasi orang lain dalam menghormati kita, karena kita telah memberikan suatu manfaat bagi mereka.
Ketiga hal diatas hanyalah suatu gambaran tentang arti dari manfaat itu sendiri. Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Kaum manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi mereka, Dan amalan yang paling dicintai Allah ‘azza wajalla adalah amalan yang mendatangkan kebahagian bagi seorang muslim, atau yang dapat menepis kesedihannya, atau dapat melepaskannya dari jerat hutang, ataukah menghilangkan rasa laparnya. Dan saya berjalan bersama saudaraku seorang muslim dalam untuk memenuhi kebutuhannya lebih saya cintai dari pada melakukan I’tikaf selama sebulan. Dan barang siapa yang menahan amarahnya niscaya Allah akan menutupi auratnya. Dan barang siapa yang menahan lagi mengendalikan hawa amarah dan jika dia berkehendak untuk melepaskannya dia dapat melepaskannya, niscaya Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang berjalan bersama saudaranya seorang muslim untuk memenuhi kebutuhannya hingga saudaranya itu mendapatkan kebutuhannya, Allah ta’ala akan menetapkan pijakan kakinya pada hari dimana kaki-kaki manusia pada berguncang. Dan sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal, sebagaimana cuka akan merusak madu “ (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 176).
Banyak cara bagi kita untuk memberikan manfaat bagi semua orang, yaitu :
BERMANFAAT DENGAN MEMBERIKAN HARTA
Terkadang di saat kita memiliki sejumlah rezeki, kita kadangkala berfoya-foya, menghabiskan uang kita untuk bersenang-senang. Padahal, banyak saudara kita yang kebingungan mencari kerja, kesulitan mendapatkan uang, sehingga harus tinggal di sebuah kontrakan yang kumuh, mereka tidak bisa membeli apa-apa, kadang anak-anak mereka merengek-rengek meminta sesuatu, tapi mereka tak kuasa untuk mendapatkannya karena terhimpit masalah ekonomi.
Salah satu cara bagi kita untuk membantu orang lain adalah dengan menyisihkan harta kita untuk diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Seperti memberikan shodaqoh di masjid, yayasan, dan memberi santunan kepada anak yatim, para dhuafa, lansia. Bahkan yang lebih berkesan adalah apabila kita mampu memberikan modal usaha kepada wirausahawan yang tidak memiliki modal. Karena selain memberi, kita juga mampu meningkatkan taraf kehidupan orang lain, yang mulanya tidak memiliki apa-apa.
BERMANFAAT DENGAN MEMBERIKAN MAKANAN
Kadangkala di saat kita lapar ada saja yang kita beli, kadang membeli nasi pecel, bakso, mie ayam, dan segala jenis makanan yang ada di rumah makan. Padahal, di meja makan kita ada sederet masakan ibu kita, bibi kita yang sekiranya masih dapat kita makan. Namun, karena kita mengikuti hawa nafsu perut, kita justru lebih memilih membeli makan di luar daripada menikmati masakan ibu kita yang dimasak dengan penuh kasih sayang hanya untuk kita. Padahal Jika kita perhatikan di seberang sana, banyak saudara-saudara kita yang mengais-ngais tempat sampah rumah makan, demi mendapatkan sesuap nasi untuk mengganjal perut, yang tidak memenuhi standar kebersihan dan gizi. Mereka sangat kesulitan mendapatkan sebutir nasi, sampai-sampai menyisir beras di halaman gudang beras yang kadang kala bercampur dengan tanah. Namun, mereka tetap saja tegar meski hanya bisa makan dengan nasi dan garam saja.
Membaca fenomena di atas, tentunya kita patut merenungi kesusahan saudara-saudara kita yang terhimpit kemiskinan. Sehingga apabila ada makanan yang masih layak dan tidak kita makan, sebaiknya kita berikan semua itu kepada orang yang lebih membutuhkan, niscaya do’a mereka akan mengiringi kita.
BERMANFAAT DENGAN MENULARKAN ILMU
“Iika mati anak adam maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga hal, yaitu : pertama shodaqoh jariyah, kedua anak yang sholihah, ketiga ilmu yang bermanfaat” di jaman globalisasi ini kita dituntut untuk mempunyai ilmu yang tinggi agar kita tidak tergeser dan terdepak dalam arus kompetisi ini. Bagi kita yang orang tuanya mampu mungkin masih dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Tapi seperti yang kita lihat di sekitar kita,banyak teman-teman seangkatan kita yang putus sekolah karena terhimpit biaya sekolah yang mahal. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menularkan ilmu yang kita miliki kepada teman-teman, serta saudara-saudara kita yang putus sekolah. Selain ilmu umum, kita juga wajib memberikan ilmu agama, agar mereka tahu bagaimana cara ibadah, bagaimana cara melakukan hubungan dengan sang illahi.
Seperti hadist di atas, apabila kita mati nanti semua ilmu yang kita tularkan kepada orang lain itu akan terus mengiringi kita. Apabila ilmu itu dipergunakan, dimanfaatkan, ditularkan lagi kepada orang lain. Sehingga pahala kita akan terus mengalir, meski ajal sudah mengintai kita.
BERMANFAAT DENGAN TENAGA
Inilah cara alternatif yang mampu dilakukan oleh semua orang, jika kita belum mampu memberikan suatu manfaat dengan harta, makanan, dan ilmu yang bermanfaat, kita mampu membantu dengan fisik kita, dengan tenaga kita, dengan keringat kita. Jika kita melihat orang lain kesusahan dalam melakukan sesuatu, kita bisa menolongnya dengan membantu mengangkatkan, membantu membawa.
Dalam hidup kita harus mempunyai prinsip, “Jangan sampai orang lain berkeringat karena kita, dan biarlah kita berkeringat demi orang lain” maksud dari filosofi tadi adalah kita harus senantiasa membantu orang lain. Relakan tetes demi tetes keringat kita untuk membantu mereka.
Ingatlah !, perbedaan orang yang bermanfaat dengan orang yang tidak bermanfaat itu bagaikan Jiwa Hidup dan Mati, jadi berikanlah manfaat kepada Orang lain agar kita tergolong menjadi manusia yang terbaik, dan jika anda tetap tidak mau untuk bermanfaat, ada ucapan sebuah media islami, ”JANGAN HIDUP, JIKA TIDAK BERMANFAAT”. Pernyataan itu memang sangat benar adanya, karena untuk apa kita hidup jika kita tidak memberikan manfaat kepada Orang Lain. Lalu apa yang kita lakukan di dunia ini jika tidak mampu bermanfaat bagi orang lain.
Dari penggalan tulisan di atas, marilah kita beranjak dari kemalasan kita, jangan mau untuk menjadi manusia yang terburuk, lepaskan segala penat kita untuk membantu orang lain. Marilah kita menjadi orang yang terbaik, dengan senantiasa membantu sesama manusia, senantiasa menolong mereka. Banyak cara untuk memberikan manfaat kepada orang lain, tergantung dari kita sendiri bagaimana cara kita mengaplikasikan arti manfaat itu sendiri. Mari membantu orang lain, agar ucapan terima kasih mereka senantiasa mengiringi kita, menjadi pahala buat kita, yang mampu menghantarkan kita menuju surganya Allah, tempat berkumpulnya para anbiya’ dan mursalin, tempat singgahnya para alim, ulama, serta para wali. Mari berbuat manfaat kepada semua orang agar kita menjadi manusia yang bermanfaat. (imq)
Langganan:
Postingan (Atom)